Suasana politik kian memanas di Pilgub Jawa Tengah 2024. Sebuah video viral menampilkan peristiwa yang tampaknya sederhana—Kapolda Jateng, Irjen Pol Ribut Hari Wibowo, melewati calon gubernur Andika Perkasa tanpa bersalaman. Merunut kejadiannya, insiden tersebut terjadi usai deklarasi kampanye damai, Selasa (24/9/2024).
Sekilas, hal ini mungkin terlihat seperti peristiwa yang tidak signifikan. Namun, di balik gestur kecil ini terhampar simbolisme dan spekulasi yang jauh lebih dalam, menyingkap aroma persaingan institusional yang selama ini terpendam, yakni antara dua pilar kekuatan bangsa: TNI dan Polri.
Meski Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto lewat laman Kumparan, buru-buru meluruskan bahwa kejadian tersebut adalah ketidaksengajaan, publik terlanjur terpancing. Framing video itu sengaja dipersepsikan sebagai bukti adanya ketegangan antara dua institusi besar.
Hal ini menjadi magnet bagi publik yang selalu haus akan drama politik, apalagi di tahun-tahun pemilihan seperti ini. Yang tak tersorot dari video tersebut adalah kenyataan bahwa Ribut dan Andika sebelumnya telah bersalaman hangat di ruang transit.
Namun, narasi yang diangkat justru menyiram minyak ke api spekulasi bahwa ada “sesuatu” antara TNI dan Polri di kontestasi politik ini.
Lantas, mengapa gestur salaman, yang biasanya dianggap sepele, bisa menjadi isu yang mengguncang ranah politik lokal? Salaman bukan sekadar kontak fisik; ia adalah simbol keakraban, penghormatan, dan persahabatan.
Dalam konteks politik, ia bisa menjadi penanda kerjasama atau permusuhan yang tersirat. Maka, ketika salaman diabaikan—sengaja atau tidak—publik langsung menangkap sinyal ada yang tak beres.
Pilgub Jateng 2024 bukan sekadar pertarungan antara para kandidat. Ia juga menjadi ajang simbolik pertarungan dua institusi besar, TNI dan Polri. Letjen TNI (Purn) AM Putranto, yang memimpin tim pemenangan pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin, membawa banyak nama besar dari kalangan TNI. Di sisi lain, Andika Perkasa, yang juga seorang purnawirawan Panglima TNI, terlibat sebagai kandidat.
Di tengah semua ini, institusi Polri, yang dalam hal ini diwakili oleh Ribut, menjadi tokoh yang ingin dilihat publik sebagai “pengadil” netral.
Namun, aroma persaingan itu tetap terasa. Publik bukan hanya melihat pertarungan politik antar kandidat, tetapi juga memaknai rivalitas terselubung antara dua kekuatan besar bangsa. Suasana Pilgub ini semakin panas dengan keterlibatan banyak nama besar dari kalangan purnawirawan TNI dan Polri di tim sukses para kandidat.
Muncul pertanyaan: apakah ini sekadar politik biasa, atau ada pergeseran kekuatan yang lebih besar di balik layar? Pemilihan gubernur ini secara tidak langsung menjadi ajang unjuk kekuatan dua institusi yang pernah berseteru dalam sejarah Indonesia.
Meski retorika persatuan antara TNI dan Polri selalu digaungkan, isu seperti ini menampakkan bahwa rivalitas itu tak pernah benar-benar hilang atau padam. Ada elemen kompetitif yang terpendam, dan momen seperti Pilgub Jateng 2024 ini adalah lahan subur bagi spekulasi-spekulasi tersebut berkembang.
Kehadiran tokoh-tokoh besar dari kalangan militer dan kepolisian mempertegas posisi Pilgub Jateng 2024 sebagai ajang perebutan kekuasaan yang lebih luas daripada sekadar jabatan gubernur.
Nama-nama seperti Letjen TNI (Purn) AM Putranto, Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman, dan mantan Kapolri Jenderal (Purn) Sutarman, —yang disebut Tempo berada di tim pemenangan Taj Yassin– membawa narasi bahwa pertarungan ini juga menyangkut pengaruh kedua institusi besar di level lokal dan nasional.
Situasi ini membawa kita pada pertanyaan besar tentang arah demokrasi di Indonesia. Apakah Pilgub Jateng ini masih mencerminkan aspirasi rakyat, atau sudah bergeser menjadi ajang pertarungan para elit militer dan kepolisian?
Kehadiran tokoh-tokoh besar dalam tim pemenangan dan viralnya isu salaman tak hanya memperlihatkan persaingan antar kandidat, tetapi juga aroma pergeseran kekuatan di antara dua institusi yang seharusnya menjaga keamanan negara.
Akhirnya, kita harus bertanya: apakah ada yang lebih besar dari sekadar tolak salaman ini? Di balik gestur yang tampak sepele, tersirat pergeseran kekuatan yang mungkin akan menentukan arah masa depan politik Indonesia, terutama di Jawa Tengah.
Di sinilah letak paradoks demokrasi kita—di satu sisi, ia adalah proses yang terbuka dan adil, namun di sisi lain, sering kali dibayangi oleh kepentingan elit yang jauh lebih besar dari sekadar pilihan rakyat.
Apapun itu, yang pasti, Pilgub Jateng 2024 telah berhasil mencuri perhatian nasional. Bukan hanya karena kontestasi antar calon gubernur, tapi juga karena aroma rivalitas dua institusi besar yang tercium di balik layar.





