Ironi Anna Mu’awanah: Ketika Prestasi Dikangkangi ‘Tangan Panjang’ Politik

Anna Mu'awanah gagal melanjutkan kepemimpinannya di Kabupaten Bojonegoro karena terhalang 'tangan panjang'. (Ilustrasi)
Niatan Anna Mu’awanah, Bupati Bojonegoro periode 2018-2023, untuk melanjutkan kepemimpinannya di periode kedua pupus. ‘Tangan panjang’ politik, demikian Anna menyebut, menjadi penghalang langkahnya untuk meneruskan serentet prestasinya di Kota Minyak.  

“Sebenarnya saya dan pasangan calon saya, Pak Teguh (Teguh Haryono, kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP), sudah mengantongi rekomendasi dari PDIP untuk maju dalam Pilkada Bojonegoro. Namun, demi kondusivitas politik, saya memilih patuh pada pimpinan (Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB)) untuk tidak maju mencalonkan diri,” kata Anna Mu’awanah kepada Samudra Fakta, melalui sambungan telepon, Jumat (30/8/2024).

Sebenarnya, kata Anna, hanya dengan rekomendasi dari PDIP pun, dia dan Teguh sudah bisa mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bojonegoro untuk ikut kompetisi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024.

PDIP punya enam kursi atau 9,71 persen dari total kursi di DPRD Bojonegoro. Angka yang cukup untuk mengusung calon sendiri, menyusul putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 60/PUU-XXII/2024 yang mengubah ambang batas (threshold) pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah menjadi antara 6,5 – 7,5 persen untuk bisa mengusung calon dalam Pilkada.

Bacaan Lainnya

“Rencananya, tanggal 29 Agustus 2024, pukul 16.00 WIB, ⁠kami bakal pasangan calon (Anna – Teguh) akan mendaftar di KPUD. Dalam proses itu, sebutlah ‘cerita alam’ tangan panjang melarang saya untuk maju sebagai calon Bupati Bojonegoro 2024-2029,” ujar mantan bupati yang mendapatkan sederet penghargaan selama menjabat itu.

Anna mengaku sudah tahu jika rekomendasi DPP PKB tidak akan datang padanya sejak Senin, 26 Agustus 2024—sehari menjelang pembukaan pendaftaran pasangan calon ke KPU. PKB, kata Anna, merekomendasikan Setyo Wahono, adik kandung Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno.

Salah satu materi kampanye Setyo Wahono, adik Mensesneg Pratikno yang mendapatkan rekomendasi dari DPP PKB. (Istimewa)

Namun demikian, kata Anna, meski tidak mendapat rekomendasi partainya, dia tetap berniat maju bersama Teguh. Tujuannya hanya satu: membuka kesempatan untuk bisa kembali memimpin Bojonegoro, agar bisa melanjutkan program-program pembangunan yang telah dia kerjakan.

Bekal dukungan dari PDIP dirasa sudah cukup memberinya jalan. Dia yakin elektabilitasnya masih cukup tinggi di Bojonegoro.

Pada Rabu, 28 Agustus 2024, pasangan Setyo Wahono – Nurul Azizah, yang mendapatkan dukungan dari Koalisi Bojonegoro Maju (KBM)—di mana PKB termasuk di dalamnya—mendaftar ke KPU Bojonegoro. Fakta tersebut tidak membuat niat Anna untuk maju kembali menjadi surut. Dia berencana tetap hendak mendaftar dengan Teguh pada Kamis, 29 Agustus 2024, pukul 16.00 WIB.

Namun, pada Rabu (28/8/2024) malam, terjadi komunikasi antara Anna dengan DPP PKB. Anna tidak menjelaskan detail isi komunikasi tersebut, yang jelas pada akhirnya dia memutuskan untuk membatalkan pencalonannya.

“Demi kondusivitas politik, terutama di Bojonegoro,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Bojonegoro ini.

Berhubung Anna batal mencalonkan diri, Teguh dan PDIP pun menempuh cara alternatif untuk bisa maju. Partai Banteng berkoalisi dengan Partai Persatuan Indonesia atau Perindo mengusung Teguh dan Farida Hariyati. Pasangan ini mendaftarkan diri pada Rabu (28/8) malam.

Apa Karya Anna dan Apa yang Hendak Dia Teruskan?

Selama memimpin Bojonegoro, Anna Mu’awanah dikenal sebagai pemimpin daerah yang membikin banyak capaian positif.

Dikutip dari buku yang dia tulis, Membangun Sejak Dalam Pikiran (2023), setidaknya ada sekitar 151 penghargaan yang dia terima dari berbagai institusi selama menjabat—penanda bahwa kinerjanya diakui oleh banyak pihak. Itu belum termasuk penghargaan Satyalencana Karya Bhakti Praja Nugraha dari Presiden Jokowi, yang diterimanya pada pada bulan April 2024 di Surabaya.

Anna Mu’awannah ketika menerima penghargaan Satyalencana Karya Bhakti Praja Nugraha dari Presiden Jokowi, yang diwakili Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Surabaya, April 2024. (Dok. Istimewa)

Dalam buku Membangun Sejak Dalam Pikiran itu Anna ‘melaporkan’ kepada publik tentang apa saja yang dia kerjakan.

Buku “Membangun Sejak Dalam Pikiran” karya Anna Mu’awanah. (Dok. Pribadi)

Dari sisi pembangunan infrastruktur, misalnya, sebagaimana Anna tulis dalam buku tersebut, selama masa kepemimpinannya, Bojonegoro berhasil membangun 554 kilometer dari total 1.380 kilometer jalan desa di kabupaten tersebut. Sisanya, 826 kilometer, sebagaimana ditulis Anna dalam bukunya, hendak dirampungkan pada tahun 2025.

Barangkali demi mengawal program inilah yang menjadi salah satu alasan Anna kembali mencalonkan diri.

Pos terkait