Pemerintah Siapkan Kurikulum Wirausaha untuk Santri dan Madrasah Aliyah

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dalam rapat koordinasi bersama Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, di Kantor Kemenko PM, Jakarta Pusat, Senin (13/10/2026). (Instagram @cakiminow) 

Pemerintah merancang kurikulum khusus untuk membekali santri dan siswa madrasah dengan kemampuan wirausaha guna menekan angka kemiskinan.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar merancang kurikulum kewirausahaan untuk pondok pesantren dan Madrasah Aliyah. Rencana ini dibahas bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta Pusat, Senin, 19 Oktober 2026.

Pembekalan tersebut bertujuan mencetak lulusan pendidikan keagamaan yang tidak hanya unggul secara akademik. Para santri diharapkan mampu bersaing di dunia kerja sekaligus merintis usaha secara mandiri.

“Kita akan dorong terus agar madrasah maupun pesantren di level aliyah dipersiapkan menjadi lulusan yang siap kerja maupun siap mandiri,” kata Muhaimin usai rapat koordinasi tersebut.

Bacaan Lainnya

Fokus Kelompok Ekonomi Bawah

Ihwal sasaran program, inisiatif ini difokuskan pada lembaga pendidikan keagamaan akar rumput. Mayoritas santri dan siswa madrasah tercatat berasal dari keluarga berpenghasilan rendah atau kelompok desil satu hingga empat.

“Ini mendapatkan perhatian khusus dalam memberikan pemberdayaan berbasis ekosistem pesantren yang sudah sangat kuat,” ujar ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa tersebut.

Kondisi sosial ekonomi ini menjadikan pesantren sebagai titik strategis. Pemberdayaan santri dinilai dapat mempercepat agenda pengentasan kemiskinan pemerintah, khususnya di wilayah pedesaan.

Integrasi Kurikulum dan Potensi Pasar

Sebelumnya, materi keterampilan dalam pendidikan pesantren sering kali hanya berstatus sebagai tambahan kurikulum. Ke depan, pemerintah menargetkan unsur kemandirian ekonomi itu terintegrasi penuh dalam pendidikan utama.

Selain penguatan kurikulum, Muhaimin menilai ekosistem ekonomi pesantren perlu dukungan pihak luar. Ia mendorong lintas kementerian dan sektor swasta ikut turun tangan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.

Menurutnya, pesantren memiliki potensi ekonomi perputaran yang besar. Lembaga pendidikan ini sudah ditopang oleh ekosistem kemasyarakatan yang kuat, ketersediaan bahan baku, serta basis pasar yang jelas.

Percontohan dan Kesiapan Mental

Sebagai tolok ukur, pemerintah merujuk pada keberhasilan Pesantren Al-Ittifaq di Bandung. Pondok tersebut dinilai sukses mengembangkan sektor agribisnis yang mampu menghidupi warga pesantren dan masyarakat sekitar.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut baik rencana tersebut. Ia menyebut Indonesia saat ini memiliki ekosistem keagamaan raksasa yang mencakup sekitar 80 ribu madrasah dan 42 ribu pondok pesantren.

“Alumni kami itu insyaallah umumnya tidak manja dan siap untuk berkeringat. Terbukti betul-betul memberikan penguatan pemberdayaan masyarakat terutama di perdesaan,” kata Nasaruddin.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan