Wajik, Kuliner Filosofis Peninggalan Majapahit yang Masih Eksis

Wajik merupakan salah satu kuliner paling populer di Indonesia. Penganan khas Jawa ini disukai semua kalangan karena rasanya yang legit. Wajik sering jadi sajian dalam berbagai hajatan. Kerap pula jadi kudapan saat ngopi atau minum teh. Namun, wajik bukanlah penganan biasa. Ada filosofi yang dikandungnya.

 

Wajik sayogianya sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit dan jadi santapan raja-raja sebagaimana disebutkan dalam kitab Nawa Ruci yang ditulis oleh Empu Siwamurti.

Bacaan Lainnya

Sesuai asal katanya, “wajik” yang berarti “kotak”, kue ini umumnya disajikan dalam bentuk kotak.

Saat ini wajik sudah dikombinasikan dengan berbagai bentuk dan warna sehingga makin cantik. Wajik ada di beberapa wilayah Tanah Air dengan sebutan berbeda-beda.

Kudapan manis ini memiliki filosofi tersendiri, yaitu melambangkan harapan untuk mempelai pengantin agar bisa selalu bersama, lengket terus sampai usia lanjut. Ini sesuai dengan tekstur kue wajik yang lengket dan sulit terpisahkan.

Selain itu, wajik juga menyimpan pesan moral, terutama bagi para pengantin. Kue ini melambangkan sebuah doa agar calon pengantin sabar dalam mengarungi bahtera rumah tangga supaya kelak mendapatkan hasil yang manis.

Oleh karenanya, wajik sering sekali ada di acara-acara pernikahan atau dibawa sebagai seserahan.

————

Cara membuat wajik:

Bahan:

Pos terkait