Tabrani berperan penting dalam penyelenggaraan Kongres Pemuda pada 30 April – 2 Mei 1926 sebagai ketua Kongres Pemuda I.
Dia giat menyerukan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan oleh kaum terpelajar Bumiputra. Tabrani pun dianggap sebagai pencetus pertama nama “bahasa Indonesia”, sehingga dijuluki sebagai Bapak Bahasa Indonesia.
4. Ratu Kalinyamat | Jawa Tengah
Ratu Kalinyamat berkuasa di Jepara pada tahun 1549-1579. Selama berkuasa, ia dikenal bijaksana, tangguh, dan pemberani.
Kalinyamat adalah putri Pangeran Trenggana, sekaligus cucu Sultan Demak pertama, yaitu Raden Patah. Nama asli Ratu Kalinyamat adalah Ratna Kencana.
Di tangan Ratu Kalinyamat,Jepara berkembang menjadi kerajaan bahari besar, di mana sumber kehidupan utama rakyatnya berasal dari lautan. Di bawah kekuasaannya pula Jepara bisa memiliki pelabuhan terbesar di Jawa yang dijaga armada laut besar dan tangguh.
Pada tahun 1573, ayah Pangeran Hadiri, Sultan Ali Mukhayat Syah dari Aceh, meminta Ratu Kalinyamat membantu menyerang Portugis di Malaka. Ratu Kalinyamat pun mengirimkan 300 kapal, di mana 80 unit kapal masing-masing berbobot 400 ton. Sekitar 40 armada kapal diisi empat sampai lima ribu prajurit. Jelas armada laut yang sangat besar pada masa itu. Kesuksesan Ratu Kalinyamat bahkan juga diakui bangsa Portugis.
Ratu Kalinyamat memimpin Jepara sekitar 30 tahun. Ia juga dikenal sebagai penguasa perempuan pertama di Kerajaan Demak ketika kerajaan ini keturunan Raden Patah saling terlibat konflik politik.
5. KH. Abdul Chalim | Jawa Barat
KH. Abdul Chalim lahir di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat, pada 2 Juni 1898. Ia merupakan putra dari seorang kuwu atau kepala desa bernama Kedung Wangsagama. Ibunya bernama Satimah.
KH. Abdul Chalim mendalami pendidikan agama Islam sejak remaja. Pada tahun 1913, ia melanjutkan pendidikannya di Makkah.
Sepulangnya dari Makkah, ia bergabung dengan temannya, KH. Abdul Wahab Chasbullah, yang memiliki komitmen untuk memerdekakan Indonesia. Ia membantu mengelola organisasi yang dirintis oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah, yaitu Nahdlatul Wathan, yang kemudian menjadi Syubbanul Wathon. Saat mendirikan Subbanul Wathon inilah keduanya membentuk Komite Hijaz.





