-
30 Juni 2023, gempa M5,9 mengguncang dari laut selatan, dengan kedalaman 76,4 km. Meski tak menimbulkan tsunami, getaran terasa luas hingga menyebabkan satu orang meninggal dan lebih dari 600 rumah rusak.
-
26 Agustus 2024, gempa M5,8 kembali terjadi di barat daya Gunungkidul. Dampaknya terasa di Bantul, Sleman, Kulonprogo, dan Yogyakarta. Total ada 104 bangunan rusak dan satu pasar hancur. BMKG mencatat 78 kali gempa susulan dalam 24 jam setelah kejadian.
Ancaman Masih Nyata
BMKG memperkirakan potensi gempa dari zona megathrust selatan Jawa dapat mencapai magnitudo hingga 8,7. Bila terjadi, dampaknya bisa jauh lebih besar dari gempa 2006. Oleh karena itu, kesiapsiagaan menjadi kunci.
“Yogyakarta adalah wilayah aktif secara tektonik. Tidak hanya karena subduksi di selatan, tetapi juga karena adanya sesar-sesar aktif di darat,” ujar Daryono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, melalui unggahan di platform X, Selasa, 27 Mei 2025.

Pakar kegempaan menekankan pentingnya edukasi kebencanaan, pembangunan rumah tahan gempa, serta sistem peringatan dini yang handal. Kesadaran masyarakat dan ketegasan pemerintah menjadi faktor vital untuk menekan risiko korban di masa depan.
Tragedi 27 Mei 2006 bukan sekadar catatan sejarah, tapi peringatan keras bahwa ancaman gempa masih membayangi. Yogyakarta mungkin terlihat tenang di permukaan, tapi di bawah tanah, sesar dan lempeng terus bergerak.
Masyarakat diingatkan untuk terus waspada. Gempa memang tak bisa diprediksi, tapi dampaknya bisa dikurangi jika kita siap. Luka lama belum pulih, dan ancaman belum berakhir.***





