Ternyata Tuyul Muncul untuk Memprotes Liberalisasi Ekonomi

Cemburu karena Tidak Tahu

Keheranan dan kecurigaan kaum tani itu muncul karena mereka hanya tahu satu cara untuk mengumpulkan harta, yaitu dengan bertani. Pikiran yang sangat tradisioanl. Selain cara itu, kaum tani tidak tahu cara lain untuk mendapatkan uang. Termasuk tidak tahu cara menguasai dan mengelola lahan secara manajerial, yang pada akhirnya bisa mendatangkan keuntungan berlimpah, terutama dalam sistem ekonomi liberal.

Menurut Ong Hok Ham, dalam buku Wahyu yang Hilang Negeri Yang Guncang (2019), kaum tani pada masa itu menganut sistem subsisten. Artinya, mereka bertani sekadar untuk mencukupi konsumsi sendiri. Jika ada hasil lebih, maka akan diberikan sebagai upeti atau dijual. Dan semua perputaran harta itu dilakukan secara transparan atau terbuka. 

Bacaan Lainnya

Masyarakat tani kala itu berpandangan jika pengumpulan kekayaan adalah proses terbuka. Maksudnya, tiap orang harus melewati proses dan bekerja atau berusaha jelas—seperti bertani, misalnya—yang dapat dilihat oleh mata orang lain dalam mengumpulkan harta. 

Nah, masalahnya, ketika itu kaum petani tidak melihat kerja keras dari OKB itu. Apalagi OKB-OKB itu juga tidak dapat membuktikan asal-usul kekayaannya ketika ditanya para petani. Alhasil, timbul kecemburuan dari petani terhadap para OKB, karena bisa punya harta sebanyak itu. 

Menurut George Quinn dalam An Excursion to Java’s Get Rich Quck Tree (2009), para petani selalu beranggapan jika datangnya kekayaan harus dipertanggungjawabkan. Maka, ketika orang kaya gagal mempertanggungjawabkan asal kekayaannya, para petani iri dan menuduh uang yang mereka punya merupakan hasil curian.

Karena ketika itu pandangan mistik masih begitu kental, terutama di kalangan tradisional Jawa, para petani pun menilai para OKB itu mencuri uang dengan cara kerja bareng makhluk supranatural dan kasat mata. Di sinilah muncul gagasan tentang tuyul.  Berdasarkan anggapan tersebut, para petani yang iri menuduh OKB menggunakan cara haram dalam memperoleh kekayaannya. 

Akibat tuduhan itu, tulis Ong Hok Ham dalam buku lain, berjudul Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong (2002), pedagang dan pengusaha sukses kehilangan status di masyarakat. Mereka dipandang hina karena dinilai memupuk kekayaan dari cara haram, yakni bersekutu dengan setan.

Padahal, menurut Ong Hok Kam, penambahan kekayaan itu terjadi akibat perubahan kebijakan kolonial Belanda, yang membuat kaum pengusaha “tertimpa durian runtuh”, di mana mereka bisa punya hak untuk menguasai dan mengelola lahan.

Jika melihat latar belakang sosial-ekonomi tersebut, gagasan tentang tuyul barangkali bisa dikatakan muncul akibat distribusi kekayaan yang tidak merata. Muncul karena kecemberuan masyarakat kecil terhadap orang kaya. Dan semua itu adalah akibat dari penerapan sistem liberalisasi ekonomi atau kapitalisme liberal. 

Ketidaksukaan para petani terhadap orang yang kaya mendadak tidak hanya berdampak pada hubungan personal. Tetapi lebih dari itu, di mana orang-orang kaya terpaksa mengubah pola transaksi mereka. Orang kaya cenderung membeli barang yang tidak menunjukkan kekayaan mereka sesungguhnya, seperti emas atau barang-barang mewah. Pasalnya, jika mereka membeli barang-barang seperti itu, mereka bakal dituduh memelihara setan atau tuyul oleh petani.

Tuduhan tak berdasar ini membuat popularitas tokoh tuyul sebagai subjek mistis dalam hal penumpukan kekayaan semakin meningkat, dan terus populer di Indonesia sampai saat ini. 

Itu tadi penjelasan dari sisi ilmiah-historis. Dari kacamata ini, makhluk gaib bernama tuyul diyakini tidak eksis secara faktual. Hanya berupa makhluk rekaan, buah dari rekayasa pikiran dan prasangka. 

Apakah benar tuyul tidak faktual? Belum tentu juga. Sebab, pada dasarnya banyak sekali hal yang tidak kita ketahui “secara rasional’, tetapi dia eksis, di mana eksistensinya tidak (atau belum) dapat dijangkau oleh pengetahuan manusia saat ini.*

————

FOTO: Ilustrasi. (Liputan6)

Pos terkait