Revolusi Mental Itu Perlu, Agar Tak Mudah “Kena Mental”

Soal masalah pertama, yaitu semangat kesejarahan, menurut Sukarno, bangsa ini semestinya berpedoman pada pendapat Kong Hu-Chu: “Study the past, if you would define the future”; dan penulis Belanda, Graa Boomsma: “Wie het verleden niet bestudeert, komt nooit aan de toekomst toe (Siapa yang tidak mempelajari masa lalu, tidak mungkin mencapai masa cita-cita). Itulah sebabnya Bung Karno selalu mengingatkan pemimpin bangsa ini: “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (Jasmerah)!”.

Keadaan sekarang tak lepas dari apa yang terjadi di masa lalu. Dan apabila masa lalu dikaji tanpa kearifan dan dipaparkan dalam suatu perspektif yang hanya memenuhi kepentingan subjektif, maka manusia akan kesulitan merancang hari depan yang dicita-citakan.

Masalah kedua adalah perubahan. Menurut S.N. Eisenstadt dalam buku Comparative Perspective on Social Change, perubahan memang menyebabkan terjadinya berbagai masalah. Namun demikian, perubahan selalu membawa harapan menuju keadaan yang lebih baik—seperti pergantian hari, bulan atau tahun yang diindikasikan menimbulkan harapan-harapan baru, mengingat perubahan berlaku pada semua aspek kehidupan manusia, sehingga pantaslah manusia menjadi subjek serta sasaran perubahan.

Bacaan Lainnya

Namun demikian, pada kenyataannya, bangsa ini terkesan masih takut pada perubahan. Sebab, sebagian besar manusianya hanya terpaku pada masalah yang bakal dihadirkan oleh perubahan itu, bukan pada harapan-harapannya. Perubahan malah menjadi sumber ketakutan. Hingga akhirnya, setelah masa kepemimpinan Bung Karno berlalu, semangat itu hilang begitu saja.

Istilah Revolusi Mental seakan-akan bangkit kembali ketika pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi dimulai pada tahun 2014.  Dalam sebuah pidatonya, Jokowi kembali menggelorakan semangat Revolusi Mental sebagai bagian agenda penting pemerintahannya.

Menurut Jokowi, seorang pemimpin bukan hanya menjalankan proyek-proyek pembangunan fisik semata, melainkan mampu membangun pola pikir sekaligus karakter positif. Kata Jokowi, percuma pembangunan fisik tanpa membangun pola pikir masyarakat. Tanpa pola pikir yang baik, kata Jokowi kala itu, masyarakat hanya menjadi ‘follower‘.

“Kalau pemimpinnya bisa memberikan contoh, bisa menginspirasi, supaya rakyat itu terdorong untuk tidak pesimistis. Itulah yang akan saya mulai kali ini,” janji Jokowi ketika memulai pemerintahannya.

Pemimpin yang mampu mengubah masyarakatnya menjadi positif, lanjut Jokowi, tak hadir pada pemimpin yang menggunakan cara-cara menyindir atau menjelek-jelekan. Menurut Jokowi, pemimpin semacam itu tidak bakal memberikan harapan bagi masyarakat. Ibarat perangkat elektronik, kata Jokowi, Revolusi Mental adalah piranti lunak yang menjadi otak seluruh pranti kerasnya.

“Dulu Bung Karno itu membangun jiwa dahulu,” kata Jokowi. Jokowi juga mencontohkan sejarah Jepang. “Dahulu Jepang itu jatuh. Lalu ada Restorasi Meiji, langsung meloncat. Saya kira kita ini nanti bisa seperti itu, asal mau,” katanya ketika itu.

Pos terkait