Refleksi Buya Nursamad Kamba: Puasa untuk Menggugah Cinta

Ilustrasi Dr. Muhammad Nursamad Kamba. (SF)

Setiap pengabdian, kata Buya Nursamad, haruslah didasarkan pada keikhlasan dan dilakukan secara sukarela serta tanpa pamrih. Dan sikap sukarela tak mungkin dibangun kecuali di atas sendi-sendi cinta kasih.

Demikian pula rasa kasih sayang, merupakan sendi kehidupan dalam membangun komunikasi antar-sesama manusia, bahkan sesama makhluk. Hablun min Allah wa hablun min al-nas.

Salah satu hadits Nabi Muhammad Saw. yang populer dan sangat universal adalah sabda beliau yang artinya: “Perumpamaan kasih sayang dan saling menyayangi antar-sesama orang-orang beriman adalah ibarat tubuh yang utuh; apabila salah satu anggota badan mengalami sakit maka organ-organ lain ikut merasakan sakitnya.”

Bacaan Lainnya

Mengacu pada hadits tersebut, maka konsep “umat’” dalam Islam, sebagaimana dicontohkan Rasulullah Saw. di Madinah, sesungguhnya mengacu kepada visi kesatuan. Ibarat satu tubuh. Ada sinergi dan harmoni di antara segenap komponen tubuh. Semua itu diikat oleh rasa cinta dan kasih sayang.

Oleh karena itu, meski masyarakat Madinah terdiri dari berbagai latar belakang etnis, ideologi, agama, dan kecenderungan politik, namun mereka tetap bersinergi sebagai satu kesatuan umat.

Sebagaimana penjelasan Buya Nursamad dalam buku Mencintai Allah secara Merdeka, dalam Piagam Madinah secara eksplisit ditegaskan bahwa ancaman luar yang mengganggu stabilitas dalam negeri Madinah adalah tanggung jawab bersama, terlepas dari perbedaan-perbedaan penduduknya. Barangkali, karena berangkat dari visi demikian ini, maka konsep dakwah amar makruf dan nahi munkar juga dilaksanakan berdasarkan sinergi kesatuan tubuh.

Kita sama-sama mengetahui bahwa tubuh kita memiliki potensi untuk secara bersama-sama melawan setiap ancaman yang mengganggu kesehatan tubuh. Demikian pula kiranya masyarakat Madinah, dibentuk oleh Rasulullah Saw. untuk secara bersama-sama melawan setiap ancaman yang dapat mengganggu stabilitas dan keutuhan bangunan umat.

Tak pelak lagi, jika kita sebagai bangsa, terutama kaum Muslim yang merupakan mayoritas penduduk negeri Indonesia tercinta ini, mampu menghayati makna kesatuan dan keterpaduan umat ibarat satu tubuh, maka seberat apa pun krisis yang dihadapi bangsa, niscaya akan teratasi.

Pos terkait