Puasa Bukan Hanya untuk Muslim
Kadang-kadang kita berasumsi keliru dengan beranggapan bahwa puasa hanya khusus untuk orang-orang Muslim. Padahal, sebagaimana pernyataan Al-Quran, umat sebelumnya juga telah diwajibkan berpuasa.
Yang dipanggil Allah untuk berpuasa dalam QS. Al-Baqarah (2): 183 pun bukan orang Muslim, tetapi “orang yang beriman”. Seorang mukmin.
Kenapa bisa demikian? Karena sesungguhnya puasa adalah kebutuhan dasar manusia, terutama yang memiliki iman dalam hatinya. Manusia memerlukan berpuasa. Bukan Tuhan yang mewajibkan manusia, melainkan manusia—terutama yang beriman—yang memerlukannya.
Kenapa Allah memerintahkan itu? Karena, sebagaimana firman Allah: “Dia menginginkan kemudahan bagimu, bukan kesukaran atau mempersulit”. Semua itu, tak lain dan tak bukan, adalah wujud kasih sayang Allah kepada manusia. Dia tidak ingin manusia mengalami kesulitan.
Sebagaimana yang diuraikan para ustadz, selama bulan puasa, secara anatomi fisiologis-psikologis, tubuh dan diri manusia terbukti perlu melakukan puasa demi menjaga keseimbangan dan kesehatan. Agar tubuh manusia tidak mendatangkan kesulitan kepadanya.
Menggugah Potensi Cinta
Lalu, bagaimanakah puasa dapat menggugah potensi cinta kasih dalam diri kita? Ilustrasi berikut dapat memberikan gambaran.
Diceritakan ketika suatu malam khalifah Umar ibn al-Khattab ra. melakukan inspeksi untuk mengenal keadaan masyarakat, di sebuah sudut jalan terdengar olehnya tangisan, bahkan ratapan tiga anak yang sedang kelaparan. Untuk menenangkan mereka, sang ibu menyalakan api dapurnya, sekalipun periuk yang diletakkan di atas tungku sesungguhnya kosong, tak berisi apa-apa. Kepul asap di dapur hanyalah sebuah harapan yang berusaha dibangun oleh sang ibu dalam diri ketiga anak-anaknya.





