Refleksi Buya Nursamad Kamba: Puasa untuk Menggugah Cinta

Ilustrasi Dr. Muhammad Nursamad Kamba. (SF)

Melihat keadaan itu, Sang Khalifah kemudian tergugah dan segera memerintahkan para pengawal menjemput sejumlah bahan makanan untuk keluarga yang malang ini. Akhir cerita, meski sang ibu tidak mengenal siapa yang memberi bantuan, ia berterima kasih dan berkata: “Siapa pun Anda, saya sangat berterima kasih. Kalau boleh saya berkomentar, sesungguhnya Anda yang berhak menjadi khalifah, bukan Umar ibn al-Khattab yang tak pernah memperhatikan nasib kami”.

Umar hanya tersenyum, lalu beranjak pergi. Dia tidak butuh pengakuan. Dia hanya memberikan bantuan karena empati dan rasa cintanya, bukan untuk disanjung-sanjung.

Sikap dalam kisah itulah yang diharapkan bisa tumbuh pada diri setiap orang yang beriman dengan cara berpuasa. Bahwa dengan mengerjakan puasa, seseorang diharapkan terpanggil untuk ikut merasakan derita kaum dhuafa, berdasarkan kasih sayang.

Bacaan Lainnya

Untuk mewujudkan kasih sayang itu, semangat keikhlasan menjadi penting. Dan untuk memupuk keikhlasan, harus dengan memelihara rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Keikhlasan tumbuh dari rasa cinta dan rasa cinta menciptakan semangat pengorbanan.

Walhasil, seseorang yang memiliki rasa cinta kepada Allah akan bersedia mengorbankan kepentingan sementara: egoisme, hawa nafsu, dan kecenderungan psikologis dan biologis untuk lebih mementingkan makna yang lebih tinggi dalam hidup ini—sebagaimana makna yang tersirat dari kisah Umar di atas. Lebih mementingkan kepentingan umum dan kepentingan bersama dari pada kepentingan diri sendiri atau kelompok dan golongan sendiri.

Sikap dan perilaku semacam inilah yang sesungguhnya kita butuhkan saat ini. Sejarah mengajarkan kepada kita, betapa pendiri Republik ini dan para pejuang terdahulu memberikan tauladan yang sempurna dalam memperlihat semangat pengorbanan sedemikian rupa.

Kiranya cukup tepat Rasulullah memprediksikan ibadah puasa sebagai pelatihan intensif yang diklasifikasikan dalam tiga tahapan: sepuluh hari pertama untuk menanamkan rasa kasih sayang dan kedamaian; sepuluh hari kedua untuk menanamkan rasa syukur, berterima, kasih dan saling menghargai; sedangkan bagian terakhir adalah keburuntungan yang tidak saja diperoleh dalam bentuk penerimaan tanda keberhasilan sebagaimana yang berlaku pada setiap pelatihan, tetapi juga keberuntungan dan keselamatan dunia akhirat.◼︎

 

 

Pos terkait