Ia menyatakan, tak membantah bahwa quick count sebagai metode penghitungan suara patut dipercaya. Hanya saja, Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu menyatakan hasil pemilu resmi hanya disampaikan oleh KPU melalui penghitungan bertahap.
“Biarkan KPU (bekerja). Kalau sudah ada keputusan KPU baru (bicara). Mungkin, Pak Jokowi mikirnya kayak di luar negeri, hari ini coblosan, hari ini diumumkan. Kalau kita kan enggak, bertahap. Undang-undang kita 7 tahun 2017 itu perhitungan itu secara manual dan berjenjang di rekapnya,” papar dia.
Atas dasar itu, Mardani merasa sikap Jokowi berlebihan. Terlebih, situasi politik dan masyarakat saat ini belum kondusif setelah pemungutan suara, Rabu (14/2/2024) kemarin. “Menunjukan tidak dewasa dan tidak bijak. Mestinya Beliau kian sudah tahu ada anaknya di situ. Sensitif, bisa menimbulkan banyak tafsir, jangan memperkeruh, Sudah lupakan saja,” tutur dia. “Pilpres itu urusan rakyat, nanti KPU yang buat pengumuman, tugas saya ngurus negara, bikin harga beras murah, bikin pekerjaan murah, gitu saja. Jangan singgung-singgung, sudah tahu sensitif anaknya ikut, sudah tahu banyak yang nolak, sudah tahu lagi bergejolak,” kata Mardani.
Juru bicara Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Aryo Seno Bagaskoro menyatakan, terlalu dini mengucapkan selamat kepada pasangan calon nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, karena perolehan suara masih berdasarkan hitung cepat atau quick count.
“Kalau kita mau ucapkan selamat masih terlalu dini. Dan, hari ini kita masih bicara quick count. Kalau kita bicara quick count itu hitung cepat, maka kami masih menunggu hasil rekapitulasi manual,” kata Aryo, dikutip dari jawapos.com, Rabu (14/2).
Aryo mengutarakan, TPN Ganjar-Mahfud juga melakukan hitung cepat internal dan ada angka positif yang agak berbeda, dengan quick count dari sejumlah lembaga survei. Pihaknya juga menerjunkan 1,6 juta saksi saat ini yang berjaga di Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ikut mengawasi pemilu, dan siap mengumpulkan kecurangan serta keanehan di TPS.
“Kita masih optimistis. Ini tidak hanya masalah menang kalah saja, kalau menang kalah secara elektoral mudah saja bagi PDI Perjuangan dukung Presiden Jokowi untuk periode tiga. Tapi hari ini PDI Perjuangan memilih untuk memperjuangkan demokrasi, bukan hanya menang kalah,” ucap Aryo.
___FOTO:KOMPAS.com/Isna Rifka Sri Rahayu





