Hati-Hati, Jangan Asal Menasihati, Apalagi di Medsos

Ilustrasi. Kadang niat baik menasihati, terutama di media sosial, malah bisa membuat orang yang dinasihati tersinggung dan marah. FOTO: Canva

Sebab, Fahruddin menjelaskan, kadang-kadang isi pesan yang disampaikan sebenarnya baik, tetapi efeknya malah tidak baik. Malah bisa menyebabkan orang lain berdosa, ketika orang yang dinasihati itu menganggap orang yang menasihatinya sok saleh, misalnya.

“Atau dia menganggap kita hanya pamer pengetahuan. Isi nasihat kita sebenarnya bagus, tetapi efeknya menjadi jelek ketika membuat orang lain berdosa, karena dia jadi berpikir yang jelek-jelek tentang kita. Apalagi ketika nasihat itu akhirnya malah menjadi perdebatan yang berujung pertengkaran—terutama kalau menasihatinya di media sosial,” papar Fahruddin.

Bacaan Lainnya

Fahruddin menyampaikan pesan tersebut karena, sekarang ini, setiap kali ada unggahan di media sosial, kebanyakan komentarnya bernuansa ribut-ribut. Mengunggah apa saja, bahkan unggahan yang bermaksud untuk menasihati, selalu berujung keributan.

Makanya, Fahruddin menyarankan agar kita berhati-hati ketika mengunggah sesuatu di medsos. Jangan asal-asalan. “Perilaku asal mengunggah ini perlu kita ubah. Jangan dibiasakan. Jika diterus-teruskan, khawatirnya kita malah merasa nikmat ketika mengunggah sesuatu yang berpotensi menimbulkan keributan,” lanjut doktor ilmu filsafat ini.

Fahruddin menambahkan, meminjam istilah Imam Abu Hamid al-Ghazali, apa pun yang kita biasakan akan membentuk karakter kita. Misalnya, kita awalnya hanya iseng mengunggah atau mengomentari sesuatu di medsos, dengan tujuan bikin isu, biar ramai, tetapi akhirnya malah menimbulkan keributan.

“Kalau kita terus-terusan melakukannya, itu akan menjadi watak kita: watak berpolemik dan ribut. Kalau kebiasaan seperti itu terus kita lakukan—meminjam istilah psikologi lama—lama-lama kebiasaan tersebut akan terinternalisasi dan berpengaruh pada struktur diri kita, bahkan DNA kita,” Fahruddin mengingatkan.

Jika DNA seseorang berisi polemik, lanjut Fahruddin, dia akan menurunkan DNA itu kepada anak-keturunannya. Keturunan itu pun juga bakal suka ribut. Kepancing sedikit langsung ngamuk. “Kenapa? Karena dia mendapatkan warisan DNA dari orang tuanya. Makanya, hati-hati. Yang tidak penting dan tidak ada gunanya jangan sampai kita jadikan kebiasaan, karena berisiko akan terinternalisasi dalam diri kita,” katanya.

Pemikiran seperti inilah yang menurut Fahruddin disebut philosophizing atau berefleksi tentang hidup. Dengan berpikir seperti itu, menurut Fahruddin, kita akan tahu bahwa tidak semua yang kelihatannya baik itu pengaruhnya juga baik.

“Makanya, ‘To live without philosophizing is in truth the same as keeping the eyes closed without attempting to open them’. Jangan merem, jangan tidak mau tahu. Jangan selalu memaksakan kemauan. Jangan begitu. Kita punya mata dan punya akal. Buka mata kita, jernihkan akal,” pungka Fahruddin.■

Pos terkait