Menurut para ahli, gempa berkekuatan besar seperti itu sebenarnya jarang terjadi di Patahan Anatolia Timur. Roger Musson, rekan peneliti kehormatan pada Badan Survei Geologi Inggris, menyatakan bahwa selama abad ke-20, hanya ada sedikit aktivis seismik besar pada patahan tersebut.
Sedangkan Badan Survei Geologi Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa hanya ada tiga gempa bumi dengan kekuatan di atas 6,0 magnitudo yang terjadi di wilayah tersebut sejak 1970. Namun, jauh sebelumnya, tepatnya tahun 1822, gempa berkekuatan 7,0 SR pernah melanda wilayah yang sama dan menewaskan sekitar 20 ribu orang. Artinya, gempa dahsyat di Turki ini bukan peristiwa pertama.

Pada Patahan Anatolia Timur, masih menurut para ahli, rata-rata terjadi kurang dari 20 gempa berkekuatan lebih dari 7,0 magnitudo setiap tahunnya. Sementara itu, sepanjang tahun 2013 hingga 2022, hanya ada dua gempa paling mematikan yang kekuatannya hampir sama dengan gempa Turki. Satunya lagi adalah gempa berkekuatan 6,2 magnitudo di Italia pada tahun 2016. Gempa tersebut menewaskan 300 orang.
Menurut Joanna Faure Walker, Kepala Institut Pengurangan Risiko dan Bencana London College University, gempa Turki-Suriah melepaskan energi 250 kali lebih banyak dibandingkan gempa Italia. Maka itulah gempa Turki menimbulkan lebih banyak korban jiwa.
Mengapa Gempa Turki-Suriah Sangat Parah?
Patahan Anatolia Timur termasuk ke dalam jenis strike-slip fault, yaitu patahan vertikal yang bagian patahannya bergerak secara horizontal. Pada jenis patahan seperti itu, lempengan batuan padat saling mendorong, melintasi garis patahan vertikal, membangun tekanan, hingga akhirnya tergelincir dalam gerakan horizontal, kemudian melepaskan sejumlah besar tekanan yang memicu gempa bumi.





