Gempa Turki: Salah Satu Bencana Terburuk Dekade Ini

Pecahan awal gempa Turki-Suriah dimulai pada kedalaman yang relatif dangkal. “Gempa di permukaan tanah akan lebih parah daripada gempa bumi yang lebih dalam dengan besaran yang sama di sumbernya,” kata David Rothery, ahli geosains planet di Universitas Terbuka di Inggris.

Sebelas menit setelah gempa awal di Turki-Suriah, wilayah itu kembali dilanda gempa susulan berkekuatan 6,7 magnitudo. Sementara itu, gempa berkekuatan 7,5 magnitudo kembali terjadi beberapa jam kemudian—diikuti gempa berikutnya dengan kekuatan 6,0 magnitudo pada sore harinya.

“Apa yang kami lihat sekarang adalah aktivitasnya menyebar ke patahan tetangga,” kata Roger Musson. “Kami memperkirakan rangkaian gempa akan berlanjut untuk sementara waktu.” Musson menyimpulkan seperti itu karena belajar dari peristiwa gempa mematikan di tempat yang sama pada 1822, di mana ketika itu gempa susulan berlanjut ke tahun berikutnya, 1823.

Bacaan Lainnya

Gempa bumi dengan besaran yang sama di daerah padat penduduk lainnya juga pernah menewaskan ribuan orang. Itulah gempa berkekuatan 7,8 magnitudo di Nepal pada tahun 2015, yang merenggut hampir 9.000 nyawa.

“(Estimasi angka korban) tidak akan baik,” kata Musson. “Jumlahnya ribuan, dan bisa jadi puluhan ribu,” katanya. Cuaca musim dingin yang membekukan, tambah Musson, membuat orang yang terperangkap di bawah reruntuhan memiliki peluang lebih kecil untuk bertahan hidup. Perkiraan Musson pun terbukti, di mana hingga 9 Februari ini tercatat lebih dari 10 ribu korban jiwa telah jatuh—tepatnya 12.049 orang.

Para ahli berpendapat bahwa patahan San Andreas di California mungkin merupakan jenis patahan strike-slip paling terkenal di dunia—selain Patahan Anatolia Timur. Para ilmuwan memperingatkan bahwa bencana gempa sudah lama tidak terjadi di wilayah tersebut.

(Toni)

Pos terkait