Meriyati Roeslani Hoegeng, istri Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, meninggal dunia pada usia 100 tahun.
Kategori: Analisis dan Opini
Maaf Tak Cukup, Pejabat Publik Butuh Evaluasi hingga Rotasi Jabatan
Opini ini menyoroti krisis etika komunikasi pejabat publik yang kerap melukai rakyat. Permintaan maaf dinilai tak cukup, perlu evaluasi institusional hingga opsi rotasi jabatan demi pulihkan kepercayaan publik dan wibawa negara.
Apakah Negara Hadir untuk Semua Pesantren?
Pengakuan negara terhadap pesantren melalui UU Pesantren dan Ditjen Pesantren membawa harapan baru. Namun, tantangan keadilan, netralitas pelayanan, dan pendampingan pesantren kecil menjadi ujian sesungguhnya kehadiran negara.
Di Tepi Gerbong yang Retak
Kasus hukum seorang Gus mengguncang batin santri, membuka krisis loyalitas, moral pesantren, dan relasi agama dengan kekuasaan.
Ekologi Media Indonesia: Mengapa Konflik Lebih Laku daripada Solusi?
Editorial berbasis data resmi APJII, BPS, dan Dewan Pers tentang ekologi media Indonesia yang secara struktural membuat konten konflik lebih viral dibanding narasi solutif.
Tentang Formula yang Bernama “Muktamar”
Esai ini membedah krisis PBNU, tarik-menarik legitimasi Muktamar, serta pentingnya kembali pada komando Syuriyah demi menjaga jiwa dan tradisi Nahdlatul Ulama.
Prabowo, Rehabilitasi ASDP, dan Batas Tipis antara Risiko Bisnis dan Kriminalisasi
Rehabilitasi Presiden Prabowo atas tiga eks pejabat ASDP memicu debat nasional tentang batas antara risiko bisnis dan kriminalisasi keputusan korporasi. Editorial ini menyoroti proses hukum, reaksi publik, dan dampaknya terhadap tata kelola BUMN.
NU, Organisasi dan Arogansi
PBNU dinilai semakin sentralistik lewat pembatalan hasil Konfercab, penunjukan karteker, dan keputusan yang menyingkirkan musyawarah daerah. Artikel ini mengulas kegelisahan kiai dan ancaman lunturnya kearifan NU.
Yang Ilahi dan yang Insani di Jalan Kramat
Tulisan reflektif Aguk Irawan MN ini menyoroti dinamika ulama di Jalan Kramat, mengingatkan kembali pada esensi keulamaan sejati: bukan perebutan posisi, melainkan penyambung wahyu yang menebarkan ketenangan dan kebijaksanaan bagi umat.
Vonis Ira Puspadewi dan Bayang-Bayang Kasus Tom Lembong
Vonis 4,5 tahun Ira Puspadewi yang seakan merepitisi pola kasus Tom Lembong: kerugian negara besar tapi tak ada keuntungan pribadi bagi tervonis, dan batas kabur antara kebijakan dan pidana.
Tidak Ada Pos Lagi.
Tidak ada laman yang di load.









