Ing Ngarsa Sung Tuladha
“Ing ngarsa” artinya “di depan”. “Sung” berasal dari kata “asung” yang berarti memberi. Dan “tuladha” bermakna “teladan” atau “contoh yang baik”.
Maka, secara harfiah, prinsip ing ngarsa sung tuladha bermakna bahwa siapa yang di depan haruslah memberi contoh yang baik. Misalnya, dalam lingkungan keluarga, orang tua adalah pemimpin yang ada di depan, karena itu ia harus memberikan contoh teladan bagi anak-anaknya.
Sedangkan dalam dunia pendidikan, tugas guru sebagai tenaga pendidik bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memberikan contoh dan suri teladan kepada murid-muridnya.
Ing Madya Mangun Karsa
Kalimat kedua dalam semboyan tersebut adalah ing madya mangun karsa. “Ing madya” berarti “di tengah“; “mangun” berarti “membangun” atau “memberikan”, dan “karsa” dari kata “prakarsa” berarti “ide” atau “gagasan”.
Ing madya mangun karsa membawa makna bahwa yang di tengah harus memberikan ide, gagasan. Maka dari itu, seorang pendidik yang berada di tengah-tengah muridnya harus mampu merangsang terciptanya ide dan gagasan-gagasan.
Guru dan orang tua juga harus menjalin komunikasi yang baik dengan anak dan murid-muridnya. Hubungan komunikasi yang baik ini akan membuat anak-anak terbuka dalam menyampaikan masalah dan pemikirannya.
Dengan demikian, setiap masalah dapat dipecahkan secara bersama-sama. Anak-anak pun akan senang karena mendapat perhatian orang tua dan gurunya.
Di lingkungan keluarga, orang tua bisa membangun komunikasi dan hubungan baik dengan dongeng. Melalui dongeng, orang tua dapat memberikan pengertian, mengasah perasaan anak dan menghidupkan daya imajinasi anak.





