Sukarno dan Khrushchev (2): Ada ‘Aroma’ Soviet di Tugu Monas

Ia mengultuskan materialisme, menganggap materi atau sesuatu yang berwujud adalah esensi dari semua realitas yang mendasari lahirnya gagasan—bukannya gagasan itu berasal dari anggan-angan, ide, atau sesuatu yang dibayangkan saja. Sesuatu yang dipikirkan atau direncanakan harus terukur, nyata, dan sesuai dengan kondisi riil. Misal, jika rakyat lapar, maka yang diperlukan adalah bahan makanan, bukannya pakaian atau gedung megah. Maka dari itulah ia merasa ide Sukarno ‘aneh’, karena saat itu—menurut Khrushchev—rakyat Indonesia lebih membutuhkan bahan makanan daripada sebuah tugu.

Sukarno mendengarkan tanggapan Khrushchev dengan saksama. Namun, sebenarnya ia tidak setuju dengan cara berpikir dialektis-materialis sebagaimana mazhab negara-negara komunis. Setelah memberikan kesempatan pada Khrushchev untuk berargumentasi, Sukarno pun melontarkan sanggahan.

Lha, pada waktu rakyat Uni Soviet sedang telanjang, sedang menderita, rakyat di Samar, dekat Leningrad kelaparan, kok, Uni Soviet mendirikan monumen-monumen? Kok, mendirikan lambang-lambang? Sebuah negara tidak hanya membutuhkan materi, namun juga semangat, kebutuhan mentalitas. Karena itulah, meski saya dikritik, saya tetap meneruskan usaha saya, dengan bantuan Anda, untuk membangun sebuah monumen nasional sebagai simbol kebesaran bangsa Indonesia,” kata Sukarno.

Bacaan Lainnya

Kendati sempat terjadi adu argumen antara Sukarno dan Khrushchev, nyatanya pemerintah Uni Soviet mengucurkan bantuan dana kepada Indonesia untuk pembangunan tugu Monas. Pasalnya, Khrushchev sepertinya sadar jika ia sedang berhadapan dengan seorang pemimpin yang progresif-revolusioner—sebagaimana dirinya sendiri. Ia pun setuju dengan argumentasi Sukarno. Ia mengangguk-angguk. Ia mengamini jika bangsanya banyak membangun monumen untuk membakar semangat perjuangan kaum proletar atau buruh dalam menentang eksploitasi kaum borjuis, ketika masalah kecukupan pangan belum teratasi sepenuhnya.

Khrushchev paham apa yang ada di benak Sukarno. Ia paham jika Sukarno butuh tempat untuk mengumpulkan massa dan menggerakkan semangat juang rakyatnya dengan pidato-pidato politik. Khrushchev akhirnya setuju memberikan bantuan dana untuk mendukung gagasan pembangunan monumen yang dimaksud Sukarno.

Monas akhirnya dibangun pada tanggal 17 Agustus 1961-1975. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Presiden Sukarno.

Pos terkait