Maka dari itulah, menurut Anhar, seluruh wilayah NKRI yang dinyatakan merdeka tetap diklaim sebagai kepunyaan kolonialis Belanda. “Sebuah ‘angan-angan kolonialis’ yang tidak masuk akal. Sebab, sejak Pemerintah Nederlandsch-Indie menyerah tanpa syarat kepada Jepang, maka sebenarnya, sejak saat itu, runtuh dan berakhir pulalah kekuasaan kolonialis Belanda di wilayah Indonesia,” tegas Anhar.
Karena itulah, menurut Anhar, pemerintah dan bangsa Belanda tetap berusaha memaksakan kehendak untuk kembali ke Indonesia yang masih mereka pandang sebagai wilayah jajahannya.
“Dengan pernyataan kemerdekaan Bangsa-Negara Indonesia, Bangsa Belanda tidak hanya kehilangan wilayah jajahan berupa wilayah yang sangat strategis, melainkan terutama karena Belanda kehilangan kehormatannya sebagai bangsa kolonialis. Selain itu juga, Belanda kehilangan sumber ekonomi-keuangan yang kaya, yang memberikan sumbangan ekonomi-keuangan yang sangat banyak,” jelas Anhar.
Dengan alasan tersebut—yang tentu saja tidak dinyatakannya secara terbuka— Pemerintah Belanda menggunakan segala cara untuk mengembalikan kekuasaan kolonialisnya di tengah-tengah Bangsa-Negara Indonesia yang merdeka.
“Dalam usahanya itu, pemerintah/bangsa Belanda mendapat dukungan dari negara-negara sekutunya, seperti Australia dan Inggris. Bahkan, untuk mewujudkan tujuan kolonialismenya itu, Pemerintah Kerajaan Belanda menggunakan kekuatan senjata untuk memaksa bangsa Indonesia merdeka menerima kehendak kolonialnya itu,” kata Anhar.
Belanda, menurut Anhar, memaksakan perang untuk mewujudkan tujuan kolonialnya. “Sebaliknya, Bangsa Indonesia menerima pemaksaan perang itu dalam sikap untuk mempertahankan hak kemerdekaan kebangsaannya! Perang itu berlangsung dalam jarak waktu 1945-1949,” papar Anhar.
Sejarawan Indonesia menyebut periode itu sebagai Perang Mempertahankan Kemerdekaan, kemerdekaan Bangsa-Negara Indonesia. Perang itu berlangsung di seluruh wilayah Indonesia.
Perlawanan bangsa Indonesia muncul tidak hanya di Jawa—sebagaimana sering digambarkan oleh sementara pihak—melainkan di seluruh wilayah Negara Republik.
“Perang memang berawal di Jawa, di Surabaya, Jawa Timur, pada 10 November 1945. Peristiwa ini (perang Surabaya), 10 November, kemudian dijadikan sebagai hari resmi yang diperingati dengan nama Hari Pahlawan. Pada akhir 1946 dan awal 1947, pasukan Belanda melakukan kegiatan ‘pembersihan’ terhadap rakyat Sulawesi Selatan, yang dipimpin oleh Kapten Westerling sampai dengan tahun 1970-an, yang memakan korban 40.000 rakyat Sulawesi Selatan,” Anhar menjelaskan.
Setelah berbagai macam invasi oleh militer Belanda dan perundingan panjang antara wakil-wakil NKRI dengan pihak Belanda yang difasilitasi Sekutu, yang berlangsung sepanjang 1946-1949, Indonesia akhirnya menjadi negara yang berdaulat dan Belanda angkat kaki dari negara ini.*





