Adu Domba Jawa-Sunda
Pada tahun 1860, Agus Sunyoto melanjutkan, Belanda menerbitkan Kronik Kidung Sunda. Isinya menceritakan Perang Bubat dan kisah tentang Mahapatih Gajah Mada membunuh raja serta putri Sunda.
Menurut Agus, di naskah Majapahit manapun tidak ditemukan adanya peristiwa ini. Dalam naskah-naskah Sunda juga tidak ditemukan. Tidak ada juga dalam berbagai prasasti dan manuskrip asli Nusantara.
Artinya, satu-satunya cerita Perang Bubat ada di Kidung Sunda. Dan ini, kata Agus, adalah strategi Belanda memecah belah Jawa dan Sunda.
Belakangan muncul kitab untuk mendukung Kidung Sunda. Sebuah kitab yang disebut Serat Pararaton untuk mendiskreditkan raja-raja Majapahit. Narasi itu dikampanyekan karena para pengikut Diponegoro, orang-orang Kesultanan Mataram, selalu membanggakan sebagai keturunan raja-raja Majapahit—seperti Raden Wjiaya, Gajah Mada, Hayam Wuruk. Untuk mendelegitimasi kebanggaan itu, menurut Agus Sunyoto, dibuatlah Serat Pararaton dan disebarkan oleh Belanda tahun 1920.
Isinya hanya ingin menunjukkan nenek moyang orang Majapahit yang bernama Ken Arok adalah anak haram, penjahat, orang yang licik dan kejam. Informasi yang keliru, menurut Agus, karena namanya tidak ada di prasasti. Nama ini adalah bikinan dan cerita-ceritanya adalah fiktif.
Ada yang mengatakan serat ini ditulis tahun 1535 tahun Jawa, yang sama dengan tahun 1613 Masehi, pada masa awal Sultan Agung. Ternyata para pujangga kraton juga tidak ada yang tahu tentang serat ini, baik Keraton Mataram Yogyakarta maupun Keraton Pakualaman Surakarta. Belandalah yang menerbitkan Serat Pararaton untuk menunjukkan bahwa leluhur raja-raja Jawa adalah brengsek seperti Ken Arok.
Makanya, di Sunda, atau di daerah Jawa Barat, tidak ada jalan Hayam Wuruk atau Gajah Mada, karena terhegemoni oleh narasi Belanda. Ada lagi dimunculkan tokoh Sabdo Palon Noyo Genggong Semua ini adalah naskah-naskah buatan Kolonial Belanda yang semuanya tidak ada di Babad Tanah Jawi.
Upaya memperkuat distorsi sejarah penemuan Jawa Lama dilanjutkan oleh generasi selanjutnya, kita lihat misalnya Zoetmulder intelektual yang berlatar Katolik menghasilkan karya sastra yang berjudul Kalangwan: Sastra Jawa Kuno. Karya ini adalah karya sastra untuk menghilangkan kesusastraan Islam-Jawa yang sudah ditorehkan oleh para wali zaman dulu. Dengan adanya politik pengetahuan semacam demikian, pengharapan mereka (kaum kolonial) atas Islam yang sudah melekat dan mengakar dalam ke-diri-an Jawa dapat digantikan dengan keyakinan baru yang dibawa oleh para orientalis dan misionaris.
Penulis buku Atlas Walisongo ini pun mewanti-wanti agar masyarakat—terutama kalangan intelektual—lebih kritis dan berhati-hati dalam menjadikan historiografi yang disusun bangsa Barat sebagai rujukan. Dia pun menegaskan pentingnya membandingkan dengan sumber-sumber yang lebih terpercaya seperti prasasti, atau laporan yang dibuat oleh orang-orang pada masa itu.*




