Merekrut Priyayi Pribumi
Untuk melacak naskah-naskah asli Nusantara yang hendak ‘direvisi’ dan membangun penjajahan literasi itu, Pemerintah Kolonial merekrut tokoh-tokoh potensial pribumi yang mereka nilai kooperatif.
Pada waktu itu, ada dua kelompok yang melek literasi, yakni pujangga keraton dan pemuka agama di pesantren-pesantren, tanah perdikan, dan kampung Mutihan. Belanda berupaya untuk memisahkan kedua kelompok tersebut.
Para pujangga keraton direkrut, dilibatkan dalam kajian riset dan mengajar, sekaligus menjalankan fungsi sebagai informan untuk melacak naskah-naskah kuno. Setelah ketemu, naskah-naskah kuno itu pun didelegitimasi. Tujuannya agar tidak mendapatkan popularitas yang lebih tinggi dari kaum intelektual pemerintah Hindia-Belanda.

Kegiatan ini dikerjakan untuk menekan perkembangan Islam, sekaligus untuk mencari ajaran Jawa lama, dengan cara berkolaborasi dengan para priyayi Jawa yang notabene Muslim. Pencarian terhadap Jawa Lama ini pun, pada akhirnya, menjadikan priyayi Jawa lebih berorientasi ke Islam Jawa. Mereka mendapatkan sokongan pendanaan dan pengetahuan. Akibatnya, mereka makin jauh dari Islam yang berkembang di kalangan pesantren.
Inilah politik pengetahuan yang paling efektif dilakukan oleh pemerintah kolonial dalam memisahkan hubungan keraton dan pesantren, yang sudah terjalin ratusan tahun silam. Proyek ini pun kemudian memunculkan beberapa karya yang menyerang, bahkan mencela Islam-tradisi ajaran Wali Songo.
Sejarawan Agus Sunyoto, dalam bedah novel karyanya, Mahapatih Mangkubhumi Majapahit Pu Gajah Madadi, di Brantas Room, kantor Jawa Pos Radar Kediri, pada 4 September 2019, menyampaikan bahwa naskah-naskah baru buatan Belanda banyak yang menceritakan hal fiktif. Tidak sesuai dengan naskah kuno aslinya, yang dibuat sebelum era penjajahan kolonial.
Dalam naskah kolonial, menurut Agus Sunyoto, Wali Songo sebagai penyebar Islam digambarkan sebagai pengganggu, penghancur, dan perusak peradaban masyarakat Indonesia. Sayangnya, menurut Agus Sunyoto, selama bertahun-tahun orang Indonesia menggunakan naskah kolonial itu untuk menulis sejarah Indonesia.
Agus Sunyoto mencontohkan, sekitar dua tahun setelah Perang Jawa, yakni tahun 1832, Mas Ngabehi Purbowijoyo, seorang jaksa Kolonial Belanda, menyusun Babad Kediri atas perintah atasannya. Buku tersebut diterbitkan tahun 1950.
Untuk keperluan penulisan itu, Mas Ngabehi Purbowijoyo mengaku mendatangi dalang wayang, lalu diberitahu informasi sejarah yang sumbernya adalah jin, melalui seorang mediator. Dari narasumber seorang mediator jin inilah Babad Kediri ditulis. Dan ternyata isinya menjelek-jelekkan Islam, para ulama, dan Wali Songo.
Pada tahun 1850, kata Agus Sunyoto, seorang misionaris bernama Ki Tunggul Wulung dari Pati—nama aslinya Abdullah, orang melarat yang ditampung dan dididik oleh seorang pastur—menjalankan misi Kristenisasi di Kediri. Di sana dia membaca Babad Kediri, kemudian mengambil sebagian dari isi Babad Kediri yang mendiskreditkan Islam dan para wali atau sunan-sunan.
Akhirnya dia pun menyusun tembang yang disebut Serat Dharmo Gandul. Setelah itu dia menulis Suluk Gatholoco. Isinya sangat mendiskreditkan Islam.
Belanda juga mengarang Kronik Sam Po Kong, yang menceritakan bahwa Wali Songo adalah adalah orang-orang China—nama-nama para wali/sunan ditulis dengan nama Cina—yang dikirim Kaisar China untuk menghancurkan Kerajaan Majapahit.
Sejarawan Agus Sunyoto mengatakan, ada informasi bahwa naskah kronik ini disimpan di Museum Resbek di Den Haag. Ternyata, menurut Agus, bohong semua. Residen Hoffman, kata dia, tidak ada.
Dicek di arsip nasional juga tidak ada. Dari kronik ini lahirlah tulisan dari orang Katolik. Menurut Agus, ketika ditanya naskah kronik yang dicarinya, De Graaf hanya tertawa, karena memang naskah itu adalah fiktif atau sama sekali tidak ada. “Naskah itu bohong dan memang tidak ada. Tujuannya untuk menghancurkan Islam dan menjelek-jelekkan Wali Songo,” kata De Graaf, sebagaimana ditirukan Agus Sunyoto.




