Namun, di sisi lain, ensiklopedia tebal tersebut mencantumkan kisah tiga serangkai haji, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piabang, tiga tokoh yang membawa ajaran Islam beraliran Wahabi ke Sumatera Barat (Sumbar). Islam, menurut versi ensiklopedia tersebut, baru masuk ke Nusantara pada tahun 1803 M, ketika tiga serangkai haji itu menyebarkan ajaran Wahabi ke Sumbar.
Jika wacana seperti ini dibiarkan, bisa jadi di masa depan—kira-kira 20 tahun yang akan datang—Wali Songo akan tersingkir dari percaturan dunia akademis karena keberadaan mereka dinilai tidak mempunyai legitimasi dalam Ensiklopedia Islam—sementara ensiklopedia ini berpotensi menjadi rujukan resmi untuk mempelajari sejarah Islam di Nusantara. Wali Songo akan tersingkir dari ranah sejarah dan tinggal mengisi ruang folklore sebagai cerita mitos dan legenda.
Selain Ensiklopedia Islam, pada tahun 2006, Sjamsudduha menulis buku berjudul Walisanga Tak Pernah Ada: Menyingkap Misteri Para Wali dan Perang Demak-Majapahit, terbitan JP. Books, Surabaya. Buku ini berisi asumsi-asumsi argumentatif, yang kemudian menyimpulkan bahwa Wali Songo sebagai sebuah lembaga dakwah beranggotakan sembilan orang wali penyebar Islam di Jawa itu tidak pernah ada.
Selain melalui buku, wacana anti-Wali Songo juga dikampanyekan melalui media sosial. Salah satu kampanye yang sempat bikin geger adalah ketika seorang penceramah bernama Abu Yahya Badrussalam mengatakan tidak ada bukti otentik tentang sejarah Wali Songo dalam ceramahnya di TV @SalamDakwah.
Tidak hanya meragukan Wali Songo, dia juga mengharamkan gamelan dan wayang yang pernah dijadikan sarana syi’ar Islam oleh Wali Songo. Berdasarkan penelusuran Samudra Fakta, unggahan video tersebut sudah di-take down. Namun, pembaca bisa menyimak melalui sebuah jejak digital akun youtobe melalui tautan https://youtu.be/-3RzxQWdtMA
Berikut transkip jawaban Badrussalam ketika menjawab pertanyaan seorang jamaahnya terkait memadukan adat dan syariat sebagaimana dilakukan oleh WaliSongo:

“Wali Songo itu enggak ada bukti yang otentik, hanya kata kata anu, kata sepuh kita, kata ini kita, mana (buktinya)? Apakah Walisongo meninggalkan buku? Tulisan? Kalau Imam al-Bukhari ada, Shahih Bukhari. Imam al-Syafi’i ada, Al-Umm. Imam Ahmad, (ada) Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Tapi enggak ada kitab Sunan Bonang. Adanya Sunan Abu Daud, Turmidzi, Ibnu Majjah. Gitu ya. Sementara kitab Sunan Bonang enggak ada, Sunan Gunung Jati enggak ada. Makanya, Pak, karena tidak ada bukti yang otentik tentang Wali Songo, kita tidak bisa memastikan itu. Katanya, para Wali itu mencampurkan adat dengan syari’ah. Mana buktinya? Kita ini mau memastikan takut menuduh yang tidak-tidak, karena tidak ada buktinya. Kalau pun toh benar para wali itu mencampurkan adat dengan syari’ah, maka kita lihat, apakah memenuhi syaratnya atau tidak dengan syarat-syarat yang kita sebutkan tadi? Adapun kemudian (kalau) tidak memenuhi syarat, contoh berdakwah melalui wayang golek atau wayang-wayang lain, sementara syari’at kita mengharamkan menggambar gambar-gambar yang bernyawa. Berarti, itu adat yang tidak sesuai dengan syari’at. Atau misalnya ada Wali Songo berdakwah dengan pakai gamelan, sementara syari’at syari’at kita jelas menunjukkan bahwa musik itu Haram.”
Menanggapi narasi tersebut, Habib Luthfi bin Yahya, ulama tarekat dari Pekalongan, Jawa Tengah, pernah menyampaikan; “Karya tulis bukan satu-satunya alat ukur fakta atau mitosnya pelaku sejarah . Sebab, Sayidina Abu Bakar, Sayidina Umar dan sahabat lain juga tidak meninggalkan karya tulis. Yang meninggalkan karya tulis malah ulama beberapa abad setelahnya, seperti Ibnu Majah, Abu Dawud, Tirmidzi, dll. Apakah karena tidak ada Sunan Abu Bakar, Sunan Umar, dan yang ada Sunan (kumpulan hadis) Ibn Majah, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, apakah berarti Abu Bakar mitos, Umar mitos, dan Ibn Majah faktual?”





