Di titik ini, negara tidak sedang menciptakan kebiasaan baru, melainkan memberi legitimasi pada pola kerja yang telah mengakar di generasi urban. Pekerjaan tak lagi melekat pada gedung perkantoran; ia berpindah mengikuti sinyal Wi-Fi dan colokan listrik.
Logika Ekonomi di Balik Ruang Publik
Di balik kesan santai Work From Mall, terdapat logika ekonomi yang cukup lugas. Konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia ditopang oleh belanja masyarakat.
Ketika libur panjang berpotensi memperlambat aktivitas produktif, pemerintah memilih strategi lain: mendekatkan kerja dengan konsumsi. Bekerja dari mal, secara implisit, membuka peluang belanja—makan siang, kopi sore, hingga transaksi ritel yang mungkin tak direncanakan.

Dalam konteks inilah Budi Santoso menempatkan momentum akhir tahun sebagai fase krusial. Melalui program BINA Great Sale yang berlangsung 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, pemerintah menargetkan transaksi hingga Rp30 triliun, melibatkan ratusan peritel dan pusat belanja di berbagai daerah.
“Perdagangan ritel dan konsumsi domestik adalah motor penting pertumbuhan ekonomi. Karena itu, momentum libur akhir tahun harus dijaga,” ujar Budi Santoso saat peluncuran program tersebut, 18 Desember 2025.
Airlangga bahkan memproyeksikan total belanja masyarakat hingga akhir tahun bisa menembus Rp110 triliun—angka yang menempatkan pusat perbelanjaan sebagai episentrum peredaran uang.
Liburan, Produktivitas, dan Kota
Dari sudut pandang pariwisata, kerja fleksibel membuka kemungkinan baru. Widiyanti Putri Wardhana melihat kombinasi liburan dan produktivitas sebagai tren global yang mulai mengakar di kota-kota besar. “Kombinasi liburan dan produktivitas menjadi tren baru. Ini memberi dampak positif bagi sektor pariwisata, ritel, dan ekonomi kreatif,” ujarnya, 27 Desember 2025.






1 Komentar
Komentar ditutup.