Veri AFI Ungkap 7 Tahun Berjuang Lawan Psikosomatis hingga Kehilangan Penglihatan

Veri AFI
Veri AFI, yang mengidap psikosomatis. -Insertlive
Jebolan AFI tampil jauh lebih kurus di Rumpi No Secret — di baliknya ada kisah panjang tentang trauma, kecemasan, dan tubuh yang ikut runtuh.

Penyanyi Veri Affandi atau akrab disapa Veri AFI kembali muncul ke hadapan publik setelah bertahun-tahun menghilang, dengan penampilan yang membuat banyak orang pangling. Tubuhnya jauh lebih kurus dari yang dikenal publik.

Dalam tayangan Rumpi No Secret Trans TV, Selasa (7/4/2026), ia buka suara soal kondisi kesehatannya yang selama ini disembunyikan.

“Medisnya yang pertama kali kena itu lambung. Lambung medisnya, terus merembet-merembet, jatuhnya jadi kecemasan, terus jadi psikosomatis,” ujar Veri.

Bacaan Lainnya
Berawal dari Trauma Peretasan

Pangkal persoalannya bukan murni medis. Sejak 2019, akun media sosial Veri berulang kali diretas hingga ia mengunci Instagram pribadinya dan menghilang total dari dunia maya. Trauma itu membuatnya dihantui kecemasan — merasa selalu diawasi dan terancam.

“Takut dizalimin sama orang, takut ada yang stalking,” katanya, dikutip Grid.ID.

Kecemasan yang menumpuk itu lama-lama menyerang tubuhnya secara fisik. Lambung terganggu, berkembang menjadi GERD kronis, lalu psikosomatis — kondisi di mana tekanan psikologis termanifestasi sebagai penyakit fisik nyata.

Puncaknya, selama tiga bulan ia sama sekali tidak bisa memasukkan makanan. “Cium aroma makanan aja sudah eneg duluan. Sampai minum air putih aja nggak bisa,” tuturnya.

Mata Kiri Tak Lagi Bisa Melihat

Cobaan tak berhenti di situ. Veri juga didiagnosis ablasio retina yang membuat mata kirinya kehilangan fungsi penglihatan secara permanen.

“Mata kiri aku udah nggak bisa melihat. Sementara desain grafis itu cita-cita aku dari kecil. Dan di situ aku tuh yang ngerasa kayak semuanya bener-bener runtuh,” curhatnya.

Dukungan Sahabat Jadi Titik Balik

Pemulihan Veri dimulai dari lingkaran terdekatnya. Para sahabatnya pelan-pelan menariknya kembali ke kehidupan sosial — mengajaknya bercanda, bahkan memastikan ia tahu makanan apa yang masih bisa masuk ke perutnya.

“Mereka sampai tahu apa-apa aja yang bisa aku makan, akhirnya aku bisa makan lagi,” ujarnya.

Pos terkait