Pada akhir penjelasannya, Kaploun menegaskan bahwa pihaknya memegang mandat yang sangat kuat dari pemerintah AS. “Jadi, kami harus punya wewenang penuh untuk mendidik kelompok anti-Semit agar berbalik melindungi Yahudi. Kita harus bisa membuat perubahan nyata dalam pertempuran melawan anti-Semit ini,” tegas Kaploun.
Pernyataan blak-blakan Yehuda Kaploun ini membuka mata kita tentang bagaimana kebijakan luar negeri dan lobi politik Amerika Serikat berpotensi menyasar ranah paling fundamental di negara lain—mulai dari ruang kelas hingga lini masa media sosial.
Kini, publik tentu menanti bagaimana sikap tegas pemerintah Indonesia dalam merespons wacana intervensi yang menyangkut kedaulatan pendidikan dan ruang digital nasional ini.***





