Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan operasi militer terhadap Iran diperkirakan berlangsung hingga empat pekan. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan media Inggris, Daily Mail, di tengah eskalasi serangan udara besar-besaran yang mengguncang Teheran dan sejumlah kota lain.
“Sejak awal ini memang diperkirakan empat minggu. Bisa empat minggu atau kurang,” kata Trump. Ia menyebut Iran sebagai negara besar yang membutuhkan waktu untuk mencapai target operasi.
Dalam wawancara terpisah dengan NBC News, Trump mengonfirmasi tiga tentara Amerika Serikat tewas dan lima lainnya luka serius dalam serangan militer terhadap Iran. Pentagon sebelumnya mengumumkan korban tersebut tanpa merinci identitas para prajurit.
“Kami punya tiga korban, dan mungkin akan ada lagi. Tapi pada akhirnya ini akan menjadi kesepakatan besar bagi dunia,” ujar Trump seperti dilansir Al Jazeera, dikutip pada Senin, 2 Maret 2026.
Trump menyatakan operasi militer saat ini berjalan “di depan jadwal”. Ia juga menegaskan bahwa operasi tempur akan terus berlanjut hingga seluruh tujuan tercapai.
“Operasi tempur terus berlangsung dengan kekuatan penuh dan akan berlanjut sampai semua tujuan kami tercapai,” katanya, tanpa merinci target yang dimaksud.
Trump juga membuka peluang perundingan dengan Iran, meski belum memastikan kapan pembicaraan itu akan dilakukan. “Mereka ingin berbicara, tapi saya katakan seharusnya mereka berbicara pekan lalu, bukan pekan ini,” ujarnya.
Serangan Guncang Teheran
Serangan udara besar oleh Amerika Serikat dan Israel dilaporkan terus menghantam Teheran pada Ahad, 1 Maret 2026. Beberapa lingkungan ibu kota dilaporkan terdampak. Militer Israel menyatakan pusat-pusat militer termasuk dalam target serangan.
Pemerintah Iran sejauh ini membatasi informasi terkait dampak serangan rudal. Koneksi internet di sebagian besar wilayah Iran juga dilaporkan nyaris terputus selama dua hari berturut-turut.
Dalam perkembangan lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa dewan kepemimpinan baru telah mulai bekerja setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi lainnya pada awal perang.
Sesuai mekanisme yang diatur pasca Revolusi Islam 1979, lembaga ulama bernama Assembly of Experts bertugas memilih pemimpin tertinggi berikutnya. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut proses tersebut diperkirakan rampung dalam hitungan hari.
Situasi di kawasan Timur Tengah kini berada dalam ketegangan tinggi, dengan Iran dilaporkan terus meluncurkan proyektil ke sejumlah wilayah regional sebagai respons atas serangan yang berlangsung.***





