Namun, jurnal internasional Archaeological Prospection, dalam publikasinya pada April 2024, telah menarik makalah terkait karena penanggalan dilakukan terhadap sampel tanah, bukan artefak manusia, sehingga hasilnya dinilai tidak valid secara metodologis.

Arkeolog Lutfi Yondri dari Balai Arkeologi Bandung juga pernah mengingatkan perlunya klarifikasi ilmiah. “Perlu diluruskan, Gunung Padang itu bukan piramida, tapi punden berundak. Penanggalan karbonnya antara 117 SM hingga 45 SM,” katanya, pada Februari 2023 lalu.
Implikasi bagi Indonesia
Meski demikian, pemerintah menilai riset ini strategis bagi pembangunan kebudayaan. Fadli Zon menegaskan kajian Gunung Padang akan dilanjutkan dengan melibatkan lebih banyak ahli, termasuk dari luar negeri, agar interpretasi sejarah Indonesia lebih utuh.
“Situs ini misteri yang perlu dipecahkan ilmuwan. Kita tidak punya cetak biru, tapi dengan ilmu pengetahuan rahasianya akan terungkap,” ujarnya, sebagaimana dikutip Antara pada 8 Oktober 2025.
Secara sosial, proyek ini berdampak ganda: memperkuat kesadaran publik akan warisan leluhur sekaligus memacu ekonomi lokal lewat wisata budaya. Namun, pengamat kebudayaan mengingatkan agar penelitian tidak terjebak dalam sensasi pseudo-arkeologi. Kredibilitas sains, kata mereka, sama pentingnya dengan semangat nasionalisme budaya yang diusung pemerintah.***





