Irene Sokoy meninggal setelah ditolak empat rumah sakit di Jayapura saat membutuhkan operasi darurat.
Seorang ibu hamil asal Kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Irene Sokoy (31), meninggal dunia bersama bayinya setelah ditolak empat rumah sakit, sebelum sempat tiba di fasilitas kelima pada 19 November 2025.
Peristiwa ini terjadi menjelang peringatan Otonomi Khusus (Otsus) Papua, yang diperingati setiap 21 November.
Irene mengalami kontraksi dini pada Minggu (16/11) pukul 15.00 WIT dan dibawa ke RSUD Yowari, Sentani, dengan menempuh perjalanan speedboat sekitar 40–50 menit.
Pemeriksaan awal menunjukkan kondisi stabil dengan pembukaan serviks 5 cm. Namun, pukul 20.00 WIT, air ketuban pecah dan detak jantung janin menurun. Karena tidak ada dokter spesialis kandungan yang bertugas, pasien dirujuk ke RS Dian Harapan (RSDH) Jayapura.
Keluarga menunggu ambulans hingga dua jam lebih sebelum tiba di RSDH pukul 01.22 WIT. RSDH menyatakan kapasitas tidak memungkinkan menerima pasien karena ruang NICU penuh dan dokter obgyn cuti.
Keluarga mengaku diminta biaya Rp8 juta meski pasien peserta BPJS Kelas 3. Namun RSDH membantah permintaan biaya tersebut.
Titik Kritis: Penolakan Beruntun Empat Rumah Sakit
Irene dirujuk ke RSUD Abepura. Namun fasilitas itu menolak karena ruang operasi sedang direnovasi. Rujukan berlanjut ke RS Bhayangkara Jayapura, yang disebut keluarga meminta uang muka Rp4 juta untuk ruang VIP. Pasien hanya mendapat perawatan IGD sebelum tidak sadarkan diri.
Pada 19 November pagi, Irene dibawa ke RS DOK II Jayapura, namun kondisinya memburuk dan ia meninggal pukul 03.00 WIT di ambulans—saat keluarga membawanya pulang.

Gelombang Reaksi Publik dan Aksi Pemuda Papua
Menanggapi tragedi ini, tagar #LayaniDuluBayarBelakangan menjadi tren nasional. Aktivis Pemuda Saireri Papua menggelar aksi damai pada 20 November di Jayapura. “Irene adalah OAP, tapi tidak mendapat layanan cepat. Otsus gagal jika kesehatan tak prioritas,” ujar perwakilan kelompok itu, sebagaimana dikutip berbagai media lokal.
Respons Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat
Gubernur Papua Mathius Derek Fakhiri menemui keluarga pada 21 November di Dermaga Ifar Besar. “Kasus ini bukti bobroknya pelayanan kesehatan di Papua. Jika masih ada rumah sakit menolak pasien, saya copot direktur,” katanya.





