Iran secara resmi mengajak negara Arab dan Islam membangun aliansi keamanan regional tanpa melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Teheran mengambil langkah geopolitik berani di tengah perang yang masih berkecamuk di kawasan Timur Tengah. Melalui Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Iran menyerukan pembentukan aliansi keamanan dan militer regional yang murni melibatkan negara-negara Arab dan Islam.
Inisiatif ini secara tegas menutup pintu bagi kehadiran Amerika Serikat (AS) maupun Israel di kawasan tersebut.
Langkah tersebut menandai pergeseran strategi Iran untuk membangun poros keamanan kolektif tanpa campur tangan kekuatan eksternal.
Teheran menilai Washington bukan lagi penjamin keamanan yang andal bagi negara-negara Teluk, terutama setelah eskalasi militer yang terus meningkat belakangan ini.
Kemandirian Keamanan Kawasan
Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya adalah Ebrahim Zolfaghari menegaskan bahwa agresi militer yang terjadi saat ini mencerminkan fase baru konflik.
Iran memosisikan diri di garis depan pertahanan untuk membela umat Islam dan mengajak negara-negara tetangga untuk kembali pada kemandirian keamanan yang berlandaskan solidaritas regional.
“Telah tiba waktunya untuk membangun aliansi keamanan tanpa Amerika Serikat dan Israel,” ujar Zolfaghari, dalam pernyataan resminya pada Rabu (25/3/2026).
Menurut otoritas militer tertinggi Iran tersebut, negara-negara di kawasan sebenarnya tidak membutuhkan kekuatan dari negara jauh untuk menjamin stabilitas mereka sendiri. Mereka didorong untuk menciptakan sistem keamanan kolektif yang mandiri dan berfokus pada kepentingan bersama di Timur Tengah tanpa intervensi asing.
Strategindi Tengah Eskalasi Perang
Seruan aliansi ini muncul tepat pada hari ke-26 perang terbuka antara Iran melawan blok AS dan Israel. Momentum ini dianggap strategis karena serangan terhadap berbagai infrastruktur di kawasan mulai memicu keraguan atas efektivitas payung keamanan yang ditawarkan Amerika Serikat selama ini.
Di medan tempur, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) baru saja melancarkan gelombang ke-79 Operasi Janji Sejati 4. Serangan tersebut menggunakan berbagai rudal balistik canggih yang menyasar fasilitas intelijen dan pangkalan militer di beberapa titik strategis.
Hingga Rabu siang, negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait belum memberikan respons resmi atas tawaran Teheran ini. Namun, inisiatif tersebut memaksa dunia internasional melihat potensi peta aliansi baru.
Iran kini tidak hanya bertahan secara militer, tetapi juga mulai menawarkan visi politik yang menantang dominasi keamanan Amerika yang sudah berlangsung selama tujuh dekade di Teluk.***





