Sebuah detail kecil dalam seremoni pelantikan Donald Trump sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat (AS) mencuri perhatian: tangannya tak menyentuh Injil saat mengucapkan sumpah jabatan.
Donald Trump kembali mencatat sejarah politik Amerika Serikat dengan dilantik sebagai Presiden ke-47 pada Senin siang waktu setempat. Upacara sederhana itu berlangsung di Rotunda Capitol, dipindahkan dari lokasi luar ruangan karena suhu dingin ekstrem yang melanda ibu kota Amerika Serikat.
Sejarah terukir, bukan hanya karena Trump kembali ke Gedung Putih setelah mengatasi empat dakwaan pidana dan dua percobaan pembunuhan, tetapi juga karena sebuah detail kecil namun mencuri perhatian. Tangan Trump tidak menyentuh Injil saat mengucapkan sumpah jabatan.
Dalam pelantikan yang berlangsung tepat pukul 12 siang waktu setempat itu, Trump mengangkat tangan kanannya, sementara tangan kirinya tetap di sisi tubuh. Alkitab keluarganya dari tahun 1955 dan Alkitab milik Abraham Lincoln, yang biasa digunakan untuk pengambilan sumpah presiden, dipegang oleh Melania Trump, sang ibu negara.
Keputusan ini membuat momen pelantikan tersebut semakin unik dan segera menjadi bahan pembicaraan publik. JD Vance, yang dilantik lebih dulu sebagai Wakil Presiden, berdiri di samping Trump dalam upacara yang menyimpan simbolisme kuat.
Trump menjadi presiden pertama dalam sejarah yang berhasil kembali ke kursi kekuasaan setelah dua kali dimakzulkan dan merupakan mantan presiden kedua yang menjabat lagi setelah Grover Cleveland pada tahun 1893.
Dalam pidato pelantikannya yang berdurasi sekitar 30 menit, Trump memproklamasikan era baru bagi Amerika. “Zaman keemasan Amerika dimulai sekarang,” ujar Trump melansir USA Today.
Pidato penuh energi tersebut menyoroti tekad untuk membawa AS kembali dihormati dunia. “Negara ini akan berkembang pesat dan menjadi bahan iri setiap bangsa,” tambah Trump dengan nada penuh keyakinan.
Sorotan juga tertuju pada kritik tajam Trump terhadap pemerintahan pendahulunya, Joe Biden, yang hadir dalam acara tersebut. Ia menyebut pelantikannya sebagai “hari pembebasan” dan menuduh pemerintahan sebelumnya sebagai rezim “radikal dan korup.”





