McMahon mengatakan bahwa sebagian besar rumah di daerah tersebut terbuat dari bahan semak-semak sehingga tidak cukup kuat untuk menahan tanah longsor berskala besar. Air terus mengalir di bawah puing-puing, membuat situasi semakin berbahaya bagi penduduk dan tim penyelamat.
Serhan Aktoprak, kepala misi badan migrasi PBB di Papua Nugini, mengatakan kepada ABC bahwa kru darurat akan terus mencari korban selamat hingga penduduk meminta mereka berhenti. Aktoprak menyatakan bahwa tim penyelamat hanya memiliki delapan kendaraan, namun ia berharap segera mendapatkan sumber daya tambahan.
Upaya penyelamatan juga dibawah bayang-bayangan kekerasan antarsuku di wilayah tersebut. Bantuan dan tim penyelamat korban longsor harus dikawal militer. “Delapan orang tewas, lima toko, dan 30 rumah dibakar pada hari Sabtu,” kata badan PBB.
Pemerintah Papua Nugini memberikan wewenang penangkapan kepada militernya pada bulan Februari di tengah kekerasan antar suku yang menewaskan sedikitnya 26 orang dalam sebuah penyergapan. Tanah longsor tersebut menimpa sebuah ruas jalan raya dekat tambang emas Porgera, yang dioperasikan oleh Barrick Gold melalui Barrick Niugini, sebuah perusahaan patungan dengan Zijin Mining dari China.
Pemerintah Australia menyatakan akan memberikan bantuan kemanusiaan senilai A$2,5 juta untuk mendukung tanggapan terhadap bencana ini.
“Sebagai tanggapan langsung terhadap permintaan Pemerintah Papua Nugini, Australia akan mengirimkan para ahli teknis untuk memberikan bantuan manajemen insiden, mendukung penilaian geohazard, dan menginformasikan upaya-upaya pemulihan awal,” kata pernyataan tersebut.





