Suhu Paling Dingin di Jatim: Gunung Bromo 8,4 Derajat Celcius

Ilustrasi suhu terdingin di Gunung Bromo. Foto: Canva
SURABAYA — Wilayah Jawa Timur (Jatim) sedang mengalami fenomena bediding yang membuat suhu udara menjadi sangat dingin. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur, suhu terendah terukur di Gunung Bromo dengan angka 8,4 derajat Celsius pada 16-17 Juli 2024.

Fenomena udara dingin ini di daerah Jawa dikenal sebagai bediding. Dalam konteks klimatologi, fenomena bediding merupakan hal normal karena berkaitan dengan kondisi atmosfer saat musim kemarau.

“Pada musim bediding, hujan jarang terjadi, mengakibatkan berkurangnya tutupan awan. Hal ini membuat panas permukaan Bumi akibat radiasi Matahari lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer berupa radiasi balik gelombang panjang,” ungkap BMKG Jatim dalam unggahan di akun Instagram mereka, Senin (24/6/2024).

Saat musim kemarau, curah hujan yang kurang menyebabkan kelembapan udara juga rendah, sehingga uap air di dekat permukaan bumi berkurang. Bersamaan dengan kondisi langit yang cenderung bersih dari awan, panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepaskan ke atmosfer luar, membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini umum terjadi di wilayah Indonesia yang dekat dengan khatulistiwa hingga bagian utara. Meski pagi hari cenderung lebih dingin, udara pada siang hari akan terasa lebih panas karena ketiadaan awan dan kurangnya uap air saat musim kemarau menyebabkan radiasi langsung Matahari lebih banyak mencapai permukaan Bumi.

Wilayah selatan Indonesia seperti Sumatera Selatan, Jawa Bagian Selatan hingga Bali, NTT, dan NTB juga mengalami penurunan suhu udara pada siang hari dibandingkan periode bulan lainnya. Fenomena ini cukup terasa pada bulan Juli, di mana angin timuran atau monsun Australia yang kering mengalir melewati wilayah-wilayah tersebut. Pada bulan Juli juga merupakan puncak musim dingin Australia sehingga udara dinginnya mengintrusi wilayah Jawa Bagian Selatan hingga Bali, NTT, dan NTB.

Meskipun kemarau menyebabkan siang hari matahari bersinar terang tanpa hambatan awan, udara dingin dari aliran monsun Australia lebih dominan memengaruhi penurunan suhu udara pada siang hari tersebut.

Adapun posisi Matahari saat ini berada pada titik jarak terjauh dari Bumi (Aphelion) dalam siklus gerak revolusi Bumi mengitari Matahari. Hal ini tidak berpengaruh secara signifikan pada fenomena atmosfer dekat permukaan Bumi.

Pos terkait