Di lain sisi, PKB pada tahun 2014 menjadi bagian dari koalisi pengusung Jokowi-Jusuf Kalla. Perbedaan pilihan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar saat itu, barangkali, adalah faktor penyebab kenapa selisih suara kedua pasangan calon tak banyak. Karena kedua kubu sama-sama dapat dukungan dari warga nahdliyin.
Dan hasil suara Pilpres 2014 di Jatim menunjukkan luwesnya nahdliyin menentukan pilihan politiknya. PKB merupakan partai pemenang Pemilu 2014 di Jatim. Artinya, kemenangan Jokowi-JK kala itu tak lepas dari mesin politik PKB, yang berhasil mengonsolidasikan basis pemilih kultural.
Tentang arah pemilih nahdliyin di 2024, khususnya di Jatim, sampai saat ini tampak masih sangat cair. Pasalnya, belum ada tokoh NU yang menjadi calon kuat dan dominan tampil sebagai capres, atau bahkan sekadar cawapres.
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Menkopolhukam Mahfud MD, yang notabene warga NU, memang punya akseptabilitas masing-masing, tetapi resistensi mereka di kalangan nahdliyin juga tidak kecil.
Jadi, para calon, masih tertarik ‘garansi lumbung suara’ warga NU?
Wijdan
–Foto: (Dari kiri ke kanan): Yenny Wahid; Habib Luthfi bin Yahya; Said Aqil Siradj; dan Yahya Cholil Staquf. (Dok.)–





