Indonesia Negara Paling Pro Sosial
Meskipun bukan negara terkaya, Indonesia mendapat peringkat tinggi dalam hal hubungan sosial dan karakter pro-sosial. Hal ini mencerminkan kuatnya hubungan komunitas dan solidaritas di masyarakat.
Sebaliknya, Jepang menjadi negara dengan skor terendah (5,89), diikuti Turki (6,32), Inggris (6,79), India (6,87), dan Spanyol (6,9). Meski Jepang dikenal kaya dan memiliki angka harapan hidup tinggi, banyak responden di sana tidak menjawab “ya” atas pertanyaan seperti “Apakah Anda memiliki teman dekat?”
Brendan Case, penulis riset sekaligus direktur asosiasi untuk penelitian di Human Flourishing Program, menjelaskan bahwa peneliti tidak bermaksud mengaitkan hasil penelitian ini dengan kekayaan, harapan hidup yang lebih panjang, pertumbuhan ekonomi, hingga kesehatan masyarakat.
Hasilnya juga mengungkap hubungan antara usia dan perkembangan dengan responden yang lebih tua mendapat skor lebih tinggi dibandingkan dengan yang lebih muda.
“Rata-rata, bila digabungkan di 22 negara, tingkat kemakmuran pada dasarnya tetap datar seiring bertambahnya usia hingga usia 18-49 tahun dan kemudian meningkat seiring bertambahnya usia setelahnya,” para peneliti menjelaskan.
“Hal ini sangat kontras dengan penelitian sebelumnya yang sebagian besar berfokus pada kepuasan atau evaluasi hidup, yang menunjukkan pola berbentuk U yang lebih dramatis seiring bertambahnya usia,” urai mereka.
Pembangunan yang Tidak Mengorbankan Makna
Para peneliti menutup studi ini dengan sebuah refleksi penting: Bisakah pembangunan ekonomi dilakukan tanpa mengorbankan makna, tujuan hidup, hubungan sosial, dan karakter?
“Dengan pembangunan ekonomi dan sekularisasi, apakah kita terkadang mengabaikan atau bahkan menekan jalur spiritual yang penting bagi perkembangan manusia?” tulis mereka.
“Jika masyarakat ingin berkembang secara utuh, pertanyaan tentang usia, pertumbuhan, dan dinamika spiritual perlu menjadi bagian dari pertimbangan kebijakan dan budaya,” tutup laporan tersebut. ***