Perusahaan Media Disapu Gelombang PHK dan Penutupan Biro. Apa Sebabnya dan Bagaimana Dampaknya terhadap Kontrol Kekuasaan?

PHK massal dan penutupan banyak biro sedang menggoyang bisnis media massa arus utama. | Ilustrasi/Samudra Fakta
Industri media arus utama atau mainstream di Indonesia menghadapi gelombang efisiensi besar-besaran. Ditandai dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan penutupan biro daerah. Pengamat menilai, fenomena ini mencerminkan krisis struktural di sektor media. Dipicu oleh perubahan perilaku konsumsi informasi masyarakat, tekanan ekonomi, dan transformasi digital yang belum sepenuhnya diantisipasi.

__________

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini data sejumlah perusahaan media besar telah melakukan langkah efisiensi:

  • Kompas TV: Mem-PHK 150 karyawan.
  • CNN Indonesia TV: Mem-PHK sekitar 200 karyawan.
  • TV One: Mengurangi 75 karyawan.
  • Emtek Group: memangkas 100 pegawai.
  • MNC Group: Melakukan restrukturisasi redaksi, dari 10 pemimpin redaksi menjadi hanya 3.
  • iNews TV: Menutup seluruh kantor biro daerah per 30 April 2025.
  • Viva.co.id: Dikabarkan akan menutup kantor operasional mereka di Pulogadung dalam waktu dekat.
  • TVRI dan RRI: Memberhentikan tenaga kontributor dan pekerja lepas di berbagai daerah.

Kenapa fenomena ini berlangsung?

Bacaan Lainnya
Penurunan Pendapatan Iklan

Beberapa waktu lalu, Direktur Utama LPP TVRI, Iman Brotoseno, mengatakan, ada tren penurunan jumlah penonton televisi dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan preferensi masyarakat ini tak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi digital.

Melansir data GoodStats yang dirilis pada pada Oktober 2024, terungkap data bahwa 57 persen responden mengaku terakhir kali menonton TV lokal beberapa bulan sebelumnya. Bahkan 4 persen lainnya tidak pernah menonton TV lokal sejak lahir.

Apa gara-garanya? Karena platform digital seperti YouTube dan layanan streaming berbayar kini menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk mengakses hiburan dan informasi.

Fenomena ini membuat stasiun televisi kesulitan bersaing, baik dari segi konten maupun pendapatan iklan.

Penurunan jumlah penonton televisi ini pun berdampak langsung pada pendapatan iklan. Biaya produksi konten yang tinggi tak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh, memaksa perusahaan media melakukan efisiensi.

Pos terkait