Perusahaan Media Disapu Gelombang PHK dan Penutupan Biro. Apa Sebabnya dan Bagaimana Dampaknya terhadap Kontrol Kekuasaan?

PHK massal dan penutupan banyak biro sedang menggoyang bisnis media massa arus utama. | Ilustrasi/Samudra Fakta
Krisis Struktural Industri Media dan Dampaknya

Praktisi media Raldy Doy memandang fenomena yang melanda media arus utama ini sebagai krisis struktural di tubuh industri media.

Kata dia, banyak media terlalu fokus pada efisiensi dan perampingan tanpa strategi adaptasi jangka panjang, yang dapat mengarah pada era post-jurnalisme yang miskin verifikasi dan etika.

“Ini bukan hanya gelombang PHK, tapi alarm serius tentang arah masa depan jurnalisme nasional. Kita sedang menyaksikan transformasi yang belum diimbangi dengan kesiapan ekosistem kerja dan bisnis media yang sehat,” kata Raldy, Ahad 4 Mei 2025, dikutip dari Askara.

Bacaan Lainnya

Raldy juga menyoroti dampak sosial PHK massal ini terhadap pekerja media dan kualitas pemberitaan.

“Kita akan  kehilangan banyak karya-karya wartawan berpengalaman. Ini bukan hanya tentang angka, tapi soal nilai dan keberlanjutan profesi jurnalistik. Kalau tidak segera dibenahi, kita bisa masuk era post-jurnalisme yang miskin verifikasi dan etika,” tegasnya.

Ia berharap para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan asosiasi pers, turun tangan untuk memastikan transisi industri ini tetap menjaga martabat pekerja media serta tak mengorbankan kualitas informasi publik.

“Jurnalisme yang sehat butuh ekosistem yang berpihak pada pekerjanya, bukan hanya pada efisiensi pasar,” pungkasnya.

Gelombang efisiensi di media mainstream Indonesia mencerminkan tantangan besar yang tak bisa lagi dihindari oleh industri ini. Perubahan perilaku konsumsi informasi, tekanan ekonomi, dan kurangnya strategi adaptasi digital menjadi faktor utama di balik PHK massal dan penutupan biro daerah.

Maka, untuk mempertahankan keberlanjutan dan kualitas jurnalisme, perusahaan media perlu mengembangkan model bisnis yang adaptif dan berinvestasi dalam transformasi digital yang berkelanjutan.***

Pos terkait