Soal Wacana Reshuffle, Pengamat: Biar Pernah Jadi Timses, Kalau Kerjanya Tak Bagus Harus Diganti

Peneliti Senior Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli meminta Presiden Prabowo Subianto tak pandang bulu dalam melakukan tata ulang atau reshuffle menteri. Yang kinerjanya jelek atau tidak loyal harus dibersihkan, termasuk yang pernah menjadi tim sukses dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) sekalipun.

Beberapa waktu terakhir isu reshuffle mengemuka di ruang publik, pasca-100 hari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Presiden sendiri telah mengeluarkan beberapa pernyataan yang menjurus ke arah kocok ulang kabinet.

Ketika menyampaikan pidato dalam Resepsi Harlah Nahdlatul Ulama (NU) di Istora Senayan, Jakarta, Rabu, 5 Februari 2025, misalnya, Presiden Prabowo menyatakan jika dia tak segan-segan menindak aparat yang tidak berpihak kepada rakyat.

Menurut Prabowo, dia sudah memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk melakukan perbaikan di 100 hari kerja pemerintahannya. Bila peringatan itu tidak dihiraukan, Prabowo menyatakan tak segan menindak tegas.

Bacaan Lainnya

“Seratus hari pertama, ya, saya sudah beri peringatan berkali-kali, sekarang siapa yang bandel, siapa yang dablek, siapa yang tidak mau ikut dengan aliran besar ini, dengan tuntutan rakyat pemerintah yang bersih, saya akan tindak,” kata Prabowo, dalam pidatonya pada Resepsi Harlah Nahdlatul Ulama (NU), di Istora Senayan, Jakarta, Rabu, 5 Februari 2025.

Jika reshuffle akhirnya benar-benar dilakukan, Lili Romli dari BRIN menyarankan agar dikerjakan tanpa pandang bulu. “Baik yang berasal dari parpol, non-parpol, maupun dari teknokrat dan tim sukses, jika mereka kinerjanya jelek atau tidak loyal, mestinya tetap di-reshuffle,” kata dia, Ahad, 9 Februari 2025.

Lili mengingatkan agar Prabowo mengacu pada pakta integritas, loyalitas, dan kinerja ketika melakukan reshuffle. Bisa juga mengacu pada kebijakan yang kontra-produktif dari menteri yang bersangkutan.

“Keinginan untuk melakukan reshuffle tersebut jangan sampai juga sekadar wacana, karena bisa menggerus kepercayaan publik,” tuturnya..***

Pos terkait