Kata dia, THR dengan nominal paling kecil bisa diberikan ke tetangga atau masyarakat umum, misalnya Rp10.000-an. Keponakan jauh atau keponakan yang masih berusia balita juga dapat diberi THR dengan nominal kecil seperti Rp10.000.
“Nominal THR tergantung kemampuan kita memberinya. Pastikan kebutuhan kita sudah tercukupi sebelumnya,” kata dia.
Andi juga menyinggung jika banyak orang menganggap THR sebagai “uang dingin”, yaitu uang tambahan yang tidak masuk dalam anggaran rutin. Hal ini sering kali membuat sebagian orang cenderung menghabiskannya tanpa berpikir panjang. Namun, apakah memang bijak untuk langsung menghabiskan THR?
“Bila memang semua kebutuhan lain sudah terpenuhi, tidak masalah apabila Tunjangan Hari Raya dihabiskan untuk keperluan berlebaran. Apalagi bagi mereka yang perlu mudik dengan jarak cukup jauh, tentu kebutuhannya lebih besar lagi. Namun sebaiknya dari THR yang diterima diawal disisihkan dulu paling tidak 10 persen untuk ditabung dan juga 10 persen sebagai cadangan dana kebutuhan berlebaran,” jelas Andi.
Menurut Andi, menyisihkan sebagian kecil dari THR untuk tabungan dapat menjadi langkah bijak, guna menghadapi kemungkinan pengeluaran tak terduga setelah Lebaran.
Dana cadangan sebesar 10 persen penting untuk mengantisipasi berbagai kebutuhan tambahan yang muncul saat Lebaran berlangsung, seperti biaya tak terduga untuk perjalanan atau tambahan angpau bagi kerabat yang datang berkunjung.
Dengan pola pikir yang lebih terencana, seseorang dapat menikmati perayaan Lebaran tanpa harus merasa khawatir keuangan akan langsung habis setelahnya.***





