Seremoni Batu Syukur di Sukabumi: Ketika OPSHID dan Polres Menanam Harapan

Kapolres Sukabumi AKBP Samian bareng-bareng anggota OPSHID dan DHIBRA dalam prosesi peletakan batu pertama atau batu syukur Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah di Cisolok, Sukabumi, Ahad, 22 Juni 2025. | Dok. DPP OPSHID FKYME
Pada sebuah dusun di Cisolok, Sukabumi, ada batu yang diletakkan sebagai penanda dimulainya pembangunan. Tapi batu itu bukan sekadar penanda. Ia diberi doa, dinamai dengan “syukur”, dan menjadi simbol gerakan sosial yang menggugah: Rumah Syukur Shiddiqiyyah.

__________

Ahad pagi, 22 Juni 2025, matahari mulai merangkak naik di Wangun Sari, Cisolok, Sukabumi, ketika Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, berdiri di atas tanah yang akan menjadi tapak Rumah Pintar Shiddiqiyyah (RPS). Batu pertama, atau lebih tepatnya batu syukur, diletakkan sebagai simbol dimulainya pembangunan RPS—satu dari lima unit rumah yang dibangun di Kecamatan Cisolok dan Cikakak oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID).

Bukan kebetulan jika Kapolres hadir. Bagi Samian, program sosial OPSHID ini senafas dengan inisiatif Polri dalam rangka HUT Bhayangkara ke-79: bedah rumah lima unit per polres.

Bacaan Lainnya

“Program OPSHID ini luar biasa. Polri pun sedang menggarap program serupa. Kegiatan seperti ini seharusnya diperluas dan dijadikan teladan,” ujarnya, di tengah seremoni.

Samian juga menyebut OPSHID sebagai organisasi kepemudaan patut dijadikan contoh dalam kerja-kerja sosial keagamaan. “Hari ini kita tidak hanya menyaksikan pembangunan rumah, tapi juga pembangunan kepercayaan,” katanya.

Doa di Balik Batu

Nama “batu syukur” bukan istilah sembarangan. Menurut Ketua Departemen Pembangunan DPP OPSHID, Taufiqurrohman, batu itu telah terlebih dahulu didoakan oleh Syekh Muchtarulloh Al-Mujtaba Mu’thi, Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah. 

Batu itu bukan sekadar pondasi fisik, tapi simbol spiritual. “Harapannya, orang-orang yang menerima rumah ini benar-benar menjadi pribadi yang bersyukur,” ucap Taufiq.

Setelah peletakan batu, tim pembangunan langsung bergerak dengan pembesian dan pemasangan usuk. Tahapan berikutnya adalah pengecoran, hingga rumah bisa segera dihuni menjelang 17 Agustus 2025—sesuai target dalam program 135 unit Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS).

Program ini dikerjakan bersama lembaga Dhilal Berkat Rochmat Alloh (DHIBDRA), mencakup lima unit rumah di lima titik: Desa Cimaja, Sukamaju, serta tiga unit di Wangun Sari.

OPSHID dan ‘Garansi’ Rasa Tenang

Di balik kerja-kerja teknis, OPSHID membawa pesan lain: ketenangan. Sekretaris Desa Wangun Sari, Eris Ruswandi, mengenang momen ketika warga sempat bingung melihat rumah-rumah disurvei.

“Saya bilang ke warga, tenang… itu OPSHID. Mereka datang bukan untuk mengambil, tapi membantu,” katanya.

Kehadiran OPSHID sejak membangun pesantren Hayya ‘Alash Sholah Hayya ‘Alal Falah (HSHF) dinilai membawa perubahan nyata. Dalam seremoni peletakan batu syukur, hadir pula mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada, tokoh masyarakat, dan aparat desa—sebuah pertemuan kolaboratif yang jarang terlihat dalam pembangunan skala akar rumput.

OPSHID, bagi banyak orang di Sukabumi, bukan hanya organisasi pemuda. Ia telah menjadi ruang harapan, ruang belajar, dan—seperti kata Kapolres—panutan tentang bagaimana iman, kerja sosial, dan gotong royong bisa membentuk wajah baru bagi desa-desa di Indonesia.***

Pos terkait