Menanggapi kritik tersebut, Ketua PBNU kala itu, Robikin Emhas, menyatakan bahwa kapasitas Yahya Staquf sebagai pembicara di AJC bukan mewakili NU seperti yang tertulis dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina, melainkan atas nama pribadi.
“Tidak ada delegasi NU. Gus Yahya hadir selaku pribadi. Tidak mewakili NU, juga negara. Begitu,” ujar Robikin, sebagaimana dikutip dari artikel Suara.com yang diunggah pada Rabu malam, 13 Juni 2018.
Yahya sendiri meyakini keputusannya untuk datang ke Yerusalem dan menemui pihak Israel sudah benar.
“Beberapa orang di sini terheran-heran dengan keputusan saya untuk datang, karena mereka berpikir orang ini pasti berada dalam bahaya karena banyak kaum muslim yang pasti mengancam akan membunuhnya,” kata dia, sebagaimana dilansir Associated Press kala itu.
Yahya juga mengaku bahwa dia memahami kontroversi kunjungannya tersebut. Dalam sebuah surat yang ia kirimkan ke Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dia menyerahkan kepada pemerintah untuk “membatalkan” kunjungannya jika dianggap mencederai kepentingan negara.
“Tapi jika ada manfaat, mari lanjutkan agar menjadi keuntungan yang nyata,” tulisnya.
Klaim Didukung Banyak Kiai
Sepulang dari Israel, Gus Yahya mengunjungi sejumlah kiai di beberapa pesantren terkemuka di Indonesia. Ketika itu dia mencoba menjelaskan perihal kehadirannya di forum AJC dan pertemuannya dengan Netanyahu.
Dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh NU di pesantren-pesantren terkemuka itu, Yahya mengklaim menyampaikan beberapa penjelasan. Antara lain, dia mencoba menerangkan bahwa AJC sangat strategis dan berdampak luas, khususnya dalam politik Amerika Serikat (AS) dan kebijakan-kebijakan Barat di dunia Islam, khususnya di Timur Tengah. Setiap calon presiden di AS biasanya berpidato dalam forum tersebut, karena besarnya pengaruh komunitas tersebut secara politik.
Yahya kala itu juga bercerita kepada para kiai bahwa selama bertandang di Yerusalem, dia tidak hanya menghadiri AJC. Maka dari itu, kata dia, jadwal kunjungannya lebih panjang dari agenda awal. Sebelumnya dia berencana berkunjung selama tiga, tetapi molor menjadi satu pekan.
Yahya juga mengaku memperluas jaringannya dengan berbagai kalangan. Waktu satu minggu itu pun diisinya dengan berbagai pertemuan yang hampir tanpa jeda. Bahkan, dia mengaku, ada yang menyelenggarakan konser untuk menyambut kedatangannya di Israel.
Setelah pertemuan tersebut, Yahya mengklaim bahwa sejumlah kiai bisa memahami agendanya di Yerusalem dan pertemuannya dengan pihak Israel. Bahkan, kata dia, sejumlah kiai malah berbalik mendukung kegiatan tersebut dan memintanya untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU.
Dan akhirnya, sebagaimana diketahui, Yahya benar-benar terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar di Lampung pada tahun 2021—atau tiga tahun setelah pertemuannya dengan Netanyahu.*





