Ruwatan Negara 2025: Membersihkan Jiwa Bangsa, Menata Ulang Makna Syukur

Ilustrasi. | Samudrafakta
Ruwatan Negara 2025 menghidupkan kembali bahasa simbolik Jawa: membersihkan jiwa bangsa dari energi buruk yang menggerogoti persatuan dan masa depan. Sebuah panggilan untuk menata ulang batin sebelum langkah ke depan.

__________

Pada 18 Agustus 2025, sehari setelah upacara kemerdekaan Bangsa Indonesia, halaman luas tempat acara dihelat berubah menjadi panggung simbolik.

Doa lintas agama bergema. Seniman membacakan syair. Tokoh-tokoh berbicara tentang syukur dan persatuan. Acara ini diberi nama Ruwatan Negara—sebuah ikhtiar untuk “membersihkan” perjalanan bangsa dari hal-hal yang mengotori, baik secara batin maupun moral.

Bacaan Lainnya

Panitia menilai, selama delapan dekade kita merayakan 17 Agustus dengan gegap gempita—upacara, lomba, pawai, pesta rakyat—tetapi nyaris tak pernah mengadakan syukuran khusus untuk berdirinya negara pada 18 Agustus 1945, saat UUD disahkan dan Republik Indonesia resmi lahir. Ruwatan Negara 2025 menjadi alarm: bangsa ini perlu menghapus kelalaian itu sebelum fondasinya keropos.

Acara Ruwatan Negara merupakan doa bersama lintas-agama, demi kedamaian Indonesia Raya. | FOTO: Dok. Panitia Ruwatan Negara

Meski mengadopsi bentuk modern, acara ini terinspirasi dari tradisi Jawa: ruwatan. Sebuah ritual yang sejak dulu dipakai untuk mengembalikan hidup ke keadaan murni, bebas dari gangguan energi buruk.

Menurut Dr. Budya Pradipta, Guru Besar Universitas Indonesia, ruwatan adalah produk jalan budaya yang tetap relevan. “Ruwatan adalah momen kontemplatif agar manusia tidak terjerumus pada perilaku buruk dan selalu menjalankan hidup ‘Hamemayu Hayuning Bawana’,” ujarnya. Hidup manusia, katanya, selalu dihadapkan pada dua pilihan: baik atau buruk.

Prof. Dr. Ayu Sutarto dari Universitas Jember menyebut ruwatan sebagai sarana komunikasi produktif antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan alam. Bukan hanya menolak petaka, tetapi juga mengasah keluhuran budi dan meredam nafsu mengejar kuasa dan harta. “Bila hati manusia dipenuhi ketamakan dan dengki, keharmonisan akan runtuh,” tegasnya.

Dalam tradisi Jawa dan Bali, ruwatan biasanya ditujukan pada orang yang dianggap wong sukerta—mereka yang hidupnya dirintangi faktor penghalang. Prosesi ini, yang dikenal juga sebagai murwakala, berarti mengembalikan keadaan ke masa awal yang murni. Secara harfiah, “ruwat” berarti membuat kejahatan atau pengaruh buruk menjadi tidak berdaya.

Ruwatan pernah diangkat ke panggung nasional pada 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid, Gus Dur. Saat itu, Indonesia baru keluar dari Orde Baru dan diliputi intrik politik, konflik sosial, serta ancaman disintegrasi. Gus Dur menggelar Ruwatan Nusantara di Yogyakarta, meminjam bahasa budaya Jawa untuk mengirim pesan politik: bangsa ini perlu dibersihkan dari dendam, kebencian, dan warisan kelam yang menghambat reformasi.

Dua puluh lima tahun berselang, Ruwatan Negara 2025 hadir dengan semangat serupa. Bedanya, Gus Dur menekankan pembersihan luka pasca-otoritarianisme, sementara Ruwatan 2025 mengingatkan bangsa untuk kembali pada rasa syukur dan keluhuran budi—agar republik tak terkikis dari dalam oleh korupsi, kebencian politik, dan ketidakpedulian.

Dari panggung wayang di desa, ke panggung negara, ruwatan menjadi bahasa simbolik untuk satu pesan sederhana: membersihkan batin adalah syarat untuk melangkah maju.***

Pos terkait