Reformasi 1998 (3-Habis): Tragedi Trisakti Tumbal Peluru Tajam Orde Baru

Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatan yang telah didudukinya selama 32 tahun pada 21 Mei 1998. Foto:Elshinta.Com

Kekacauan terjadi. Aparat mengejar dan menembaki mahasiswa yang berlarian ke kampus. Empat mahasiswa—Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie—tewas tertembak di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada. Mereka dievakuasi ke RS Sumber Waras bersama puluhan mahasiswa lain yang luka-luka.

Meskipun pihak aparat membantah penggunaan peluru tajam, hasil otopsi menunjukkan bahwa kematian disebabkan oleh peluru tajam. Penjelasan sementara menyebutkan peluru tersebut mungkin berasal dari pantulan tanah, namun kebenarannya tetap dipertanyakan hingga hari ini.

Dalam rentang waktu antara pukul 10.30 hingga 20.00, mahasiswa dan aparat silih berganti melakukan aksi, negosiasi, dan bentrok. Mulai dari aksi damai di pelataran kampus hingga penembakan brutal yang menyebabkan kepanikan dan korban jiwa. Mahasiswa berusaha mundur, namun provokasi dan tembakan aparat terus berlanjut hingga malam hari.

Bacaan Lainnya

Setelah tembakan mereda, mahasiswa berusaha mengevakuasi rekan-rekan mereka yang terluka. Ketakutan dan trauma menyelimuti kampus. Negosiasi antara Dekan FE dengan aparat berhasil mengamankan evakuasi mahasiswa secara perlahan. Mahasiswa berangsur-angsur pulang dalam kondisi ketakutan.

Rektor Universitas Trisakti dan perwakilan Komnas HAM segera melakukan jumpa pers, sementara Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoedin juga mengadakan konferensi pers di Mapolda Metro Jaya.

Tragedi Trisakti menjadi titik balik penting dalam perjuangan mahasiswa Indonesia. Peristiwa ini memicu gelombang protes yang lebih besar, menuntut reformasi total dan berujung pada mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

Pengorbanan empat mahasiswa Trisakti dikenang sebagai simbol keberanian dan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan. Tragedi ini tidak hanya mencatatkan duka mendalam, tetapi juga menginspirasi generasi berikutnya untuk terus memperjuangkan demokrasi dan keadilan di Indonesia.

Pos terkait