Menurut Tb. Ace, mudah untuk mengajak kampus lain karena kebijakan pemerintah saat itu dianggap jauh dari nilai-nilai demokrasi. “Kondisi ini menyatukan ideologi dalam gerakan mahasiswa,” tuturnya.
Ray Rangkuti, aktivis lain yang terlibat dalam demonstrasi 1998, menceritakan bagaimana aksi-aksi di kampus pada Maret 1998 tidak mendapatkan respons dari pemerintah. Hal ini memicu keputusan untuk bergerak ke Gedung DPR RI pada 18 Mei 1998. Menurutnya, mahasiswa IAIN Jakarta yang pertama kali menduduki Gedung DPR. Aksi ini didukung oleh masyarakat dan dosen yang memberikan bantuan moril dan materil.
Pendudukan Gedung DPR diawali oleh surat dari rektorat IAIN Jakarta yang ditandatangani oleh penjabat rektor sementara, Profesor Azyumardi Azra. Surat tersebut berisi tuntutan agar Soeharto mengundurkan diri. “Pada 17 Mei malam, diadakan rapat FKMC bersama pihak rektorat yang memutuskan bahwa besok (18 Mei) sivitas akademika IAIN Jakarta harus turun ke DPR,” ungkap Ray Rangkuti.
Bentrok tak terelakkan saat mahasiswa menduduki Gedung DPR, meski tidak memakan korban jiwa, beberapa orang mengalami luka-luka. “Tiga dari polisi dan lima dari mahasiswa,” ujar Ray. Mixil Mina Munir, aktivis 1998 lainnya, mengenang bahwa mahasiswa IAIN Jakarta memakai jaket almamater hijau sebagai ciri khas mereka. Mereka menduduki Gedung DPR selama empat hari, hingga pada 21 Mei 1998, Soeharto resmi mengundurkan diri sebagai Presiden RI.
Mixil bercerita bahwa setelah kejatuhan Soeharto, tugas mahasiswa belum selesai. Mereka harus mengawal proses transisi pasca-tumbangnya rezim orde baru agar tidak diselewengkan. “Setelah Soeharto jatuh, tugas mahasiswa mengawal proses transisi,” pungkasnya.
Peristiwa Mei 1998 menjadi tonggak penting dalam sejarah Indonesia, di mana semangat reformasi dan perjuangan mahasiswa, termasuk dari IAIN Jakarta, berkontribusi besar dalam membentuk masa depan bangsa yang lebih demokratis.♦




