Orang beriman tidak hanya dituntut untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga harus melatih dirinya dengan lebih bersabar dalam menerima segala keadaan dan menjaga hawa nafsu.
“Tidak sedikit dari kita ketika berpuasa emosinya menjadi naik, tempramental, tidak sabaran, dan lain sebagainya. Walaupun puasa kita tidak batal, tapi pahala puasa kita bisa berkurang,” terang Buya Syakur.
Maka dari itulah, Buya Syakur menegaskan, jelas bahwa ibadah puasa diperuntukan kepada orang mukmin, bukan orang muslim. Untuk itu, umat Islam harus terus berusaha menaikan derajatnya dari ‘sekadar’ muslim menjadi mukmin.
“Latih diri kita, lakukan ibadah sebisa dan sekuat mungkin, walau awalnya didasari keterpaksaan. Walaupun terpaksa, setidaknya kita telah menjalankan perintah Allah, berusaha taat kepada-Nya. Percayalah, ketika mendekati kebaikan, berarti kita sudah memantaskan diri kita sebagai orang baik,” papar Buya Syakur.





