Raden Patah (1): Wali-Raja Keturunan Majapahit yang Punya Banyak Nama

Dalam pengembaraan mencari ilmu, Raden Patah dan Raden Kusen dikisahkan sampai ke pinggir laut dan berjumpa dengan seorang pelaut China yang membawa mereka berdua ke Jawa dengan kapalnya. Setelah di Jawa, mereka berdua dihadapkan kepada Sunan Ampel guna menyampaikan keinginan untuk berguru Agama Islam.

Raden Patah dan Raden Kusen kemudian diterima menjadi murid oleh Sunan Ampel. Bahkan, Raden Patah kemudian dinikahkan dengan putri Sunan Ampel yang bernama Dewi Murthosimah dan Raden Kusen dinikahkan dengan cucu Sunan Ampel yang bernama Nyai Wilis.

Bacaan Lainnya

Kabar jika putra dan cucu raja Majapahit itu berguru kepada Sunan Ampel itu tersiar sampai ke ibukota Majapahit dan dilaporkan kepada Raja Brawijaya. Prabu Brawijaya kemudian mengundang Raden Kusen, cucunya, ke istana. Sewaktu datang memenuhi undangan ke istana, di hadapan raja, Raden Kusen menyatakan keinginannya untuk mengabdi kepada raja, yang tiada lain adalah kakeknya. Dia menyatakan bersedia mempersembahkan jiwa dan raganya untuk raja. Prabu Brawijaya mengakomodir keinginan cucunya itu. Prabu Brawijaya mengangkatnya menjadi seorang adipati di Terung.

Setelah Raden Kusen menjadi adipati di Terung, Sunan Ampel memerintahkan Raden Patah untuk membuka pedukuhan baru dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat di sekitar pedukuhan baru itu. Sunan Ampel memerintahkan Raden Patah berjalan ke barat sampai ke hutan Glagah Wangi dan membuka dukuh di situ. Namun, di sana ada bupati yang berkuasa yang selalu menghalangi agama Islam. Raden Patah pun mundur, lalu pergi ke Demak.

Setelah di Demak, Raden Patah mendirikan pedukuhan. Dalam waktu singkat, Raden Patah sudah bisa membangun Demak menjadi besar. Setelah itu Raden Patah diundang ke Majapahit menghadap Prabu Brawijaya. Raden Patah pun menghadap kepada ayahnya itu, menyembah, dan menyatakan bakti setia kepada Prabu Brawijaya. Raden Patah pundiangkat menjadi Adipati di Bintara, dengan ketentuan setiap tahun akan menghadap ke Majapahit.

Saat berkuasa, Raden Patah menggunakan gelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Demak, yang semula sebuah pedukuhan yang digabung dengan kota Bintara, di bawah Raden Patah berkembang menjadi kota yang memiliki pengaruh di Jawa sampai ke Palembang, Jambi, Bangka, Belitong, dan Tanjung Pura.

Tome Pires yang singgah ke Demak beberapa waktu setelah Raden Patah wafat digantikan Sultan Trenggana, yang menulis catatannya tahun 1515, menggambarkan kota Demak sebagai kota yang makmur; terdiri dari delapan sampai sepuluh ribu rumah dan tanah di sekitarnya menghasilkan beras berlimpah limpah, yang sebagian diekspor ke Malaka. Menurut catatan Tome Pires, Demak memiliki sekitar empat puluh kapal jenis jung yang melayani perniagaan di sepanjang pesisir utara Jawa hingga Palembang, Jambi, Bangka, Belitung, Pulau-Pulau Menamby, dan Pulau-Pulau di depan Tanjungpura.

Raden Patah sebagai pendiri Kerajaan Demak Bintara memiliki peranan yang tidak kecil dalam proses dakwah Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Sebab, dengan kekuasaan politis yang dipegangnya, berbagai aspek dakwah yang berhubungan dengan kehidupan sosial, ekonomi, seni, sastra, dan tradisi keagamaan dapat diarahkan dan dikembangkan secara lebih efektif melalui kebijakan pemerintah, dukungan aparatur, peran cendekiawan dan bangsawan, termasuk dukungan finansial. Berkat jasa-jasanya yang besar dalam dakwah Islam, makam Raden Patah pun dimuliakan dan banyak diziarahi oleh umat Islam Indonesia hingga saat ini.

Makam Raden Patah terletak di belakang Masjid Agung Demak, berbentuk kijing sederhana dari bahan pualam kuning di bagian luar tungkub makam Sultan Trenggana. Namun, batu pualam kuning yang dijadikan kijing makam Raden Patah, yang menggantikan batu andesit yang lama, justru menghilangkan kesan kekunoan makam pendiri Kesultanan Demak tersebut.

Makam Raden Patah di kompleks Masjid Demak. (Dok.SF)

Di sebelah makam Raden Patah terletak makam istrinya, makam Adipati Hunus, makam Pangeran Sekar Seda Lepen,Pangeran Mekah, Pangeran Ketib, dan makam adik kandungnya, Raden Kusen Adipati Terung. [—bersambung]

(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)

Pos terkait