PSSI secara resmi mengirimkan surat protes kepada Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) terkait sejumlah keputusan kontroversial dalam pertandingan antara Bahrain melawan Indonesia. Surat tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dan dikirimkan kepada Presiden AFC, Salman bin Ibrahim Al Khalifa.
“Kita tidak tinggal diam. Kita protes, ini jelas. Saat di menit-menit akhir pertandingan kita kebobolan, kita introspeksi. Kalau pemain protes, saya sebagai ketua minta kepada Presiden AFC untuk mempelajari kasus ini,” ujar Erick Thohir melalui akun Instagram resmi PSSI pada Minggu (13/10/2024).
Kontroversi tersebut bermula dari keputusan wasit asal Oman, Ahmed Al-Kaf, yang memimpin laga. Dia dianggap membiarkan pertandingan berjalan lebih lama dari injury time yang seharusnya, hingga Bahrain berhasil menyamakan kedudukan.
Gol di Injury Time Tambahan
Laga antara Timnas Indonesia dan Bahrain yang berlangsung pada Kamis (10/10/2024) malam WIB itu merupakan bagian dari Kualifikasi Piala Dunia 2026. Bahrain lebih dulu memimpin lewat gol Mohamed Marhoon, namun Indonesia berhasil menyamakan kedudukan lewat gol Ragnar Oratmangoen menjelang akhir babak pertama.
Indonesia berbalik unggul pada menit ke-74 melalui gol Rafael Struick dan tampak akan mengamankan tiga poin. Namun, drama terjadi di menit-menit akhir pertandingan ketika wasit memberikan tambahan waktu 6 menit. Meski injury time sudah selesai, pertandingan tetap dilanjutkan hingga menit ke-99, di mana Bahrain menyamakan kedudukan melalui gol Marhoon dari sepak pojok.
Gol penyeimbang yang tercipta pada menit ke-90+9, tiga menit melewati waktu tambahan, memicu protes keras dari kubu Indonesia. Ofisial tim Indonesia menyampaikan protes kepada wasit, namun tidak dihiraukan. Wasit justru memberikan kartu merah kepada manajer Timnas Indonesia, Sumardji.
Erick Thohir menegaskan bahwa PSSI telah mengajukan surat protes resmi kepada AFC. “Kalau level Asia ingin setara dengan Eropa, kualitas pertandingan harus ditingkatkan dan harus adil. Dunia melihat ini, bahkan beberapa media internasional menulis bahwa Indonesia dirampok,” ucap Erick.





