Program Makan Gratis Prabowo-Gibran Mau Pakai ‘Susu Ikan’, Benarkah Bisa Gantikan Susu Sapi?

Perbandingan susu sapi vs susu ikan. Pemerintah akan menjadikan susu ikan sebagai salah satu makanan bergizi untuk masyarakat. Foto/Ilustrasi: Canva
Jakarta –Baru-baru ini muncul perdebatan menarik tentang ‘susu ikan’—sebuah alternatif yang diklaim memiliki potensi untuk menjadi pilihan baru bagi masyarakat Indonesia, terlebih setelah pemerintah merencanakan penggunaannya dalam program makan bergizi gratis. Benarkah lebih bagus dari susu sapi?

Susu telah lama menjadi salah satu sumber gizi utama dalam kehidupan manusia. Dari tulang yang kuat hingga otot yang sehat, manfaat susu, terutama susu sapi, sudah tak diragukan lagi.

Perdebatan soal susu ikan dipicu oleh rencana Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, yang ingin mengintegrasikan susu ikan sebagai bagian dari program nutrisi nasional. Program tersebut bertujuan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi pada anak-anak, terutama stunting, yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia.

Menurut Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 13 tahun 2023, susu biasanya didefinisikan sebagai cairan yang dihasilkan oleh hewan mamalia seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. Namun, susu ikan yang kini ramai dibicarakan sebenarnya bukan berasal dari kelenjar susu mamalia, melainkan dari hidrolisat protein ikan (HPI). Ini adalah hasil ekstraksi daging ikan yang diproses menyerupai susu dari segi tekstur dan kandungan gizi.

Bacaan Lainnya
Bukan Susu Biasa

Fahmi Arif Tsani, seorang ahli gizi, menekankan bahwa susu ikan ini bukanlah “susu” dalam pengertian yang biasa dikenal. “Penamaan ‘susu ikan’ lebih merupakan strategi pemasaran,” jelas Fahmi dikutip dari U Online, Senin (16/9/2024).

“Produk ini adalah hasil ekstrak daging ikan yang diformulasikan sehingga menyerupai susu sapi.”

Meski penamaannya bisa menimbulkan kerancuan, menurut Fahmi, kandungan gizi yang ditawarkan susu ikan patut diperhitungkan. Susu ikan, terutama yang dihasilkan dari ikan laut seperti salmon, kata dia, memiliki kandungan asam lemak omega-3 yang tinggi—terutama eicosapentaenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA)—yang sangat baik untuk kesehatan jantung dan perkembangan otak.

Selain itu, “Susu ikan juga mengandung vitamin A, D, fosfor, dan magnesium,” terang Fahmi. Namun, jika dibandingkan dengan susu sapi, menurut Fahmi, kandungan kalsium dan vitamin D dalam susu ikan cenderung lebih rendah.

“Keunggulan susu ikan adalah kandungan omega-3-nya, sementara susu sapi unggul dalam kalsium dan protein berkualitas tinggi yang sangat baik untuk pembentukan otot,” jelas Fahmi lebih lanjut.

Pro dan Kontra

Rencana pemerintah terkait susu ikan ini telah memicu diskusi di berbagai kalangan, termasuk di parlemen. Handoyo, anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan, berpendapat bahwa perbandingan langsung antara susu ikan dan susu sapi kurang tepat. Ia menyoroti bahwa kedua produk berasal dari proses dan sumber yang berbeda.

“Susu ikan dan susu sapi tidak bisa dibandingkan secara langsung,” tegasnya.

Handoyo lebih menganjurkan pemberian ikan segar kepada anak-anak daripada produk olahan seperti susu ikan yang telah melalui banyak tahapan industri.

Pendapat Handoyo didukung oleh sejumlah ahli gizi yang berpendapat bahwa mengonsumsi makanan utuh, seperti ikan segar, lebih baik dalam jangka panjang. Ia juga mengingatkan pentingnya program Gerakan Masyarakat Makan Ikan (GEMARIKAN) yang telah lama dikampanyekan untuk mendorong konsumsi ikan di Indonesia. “Ikan segar menawarkan manfaat gizi yang lebih optimal, tanpa kehilangan nutrisi penting yang sering kali hilang dalam proses produksi olahan,” katanya.

Potensi Susu Ikan

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan tetap optimis terhadap potensi susu ikan. Budi Sulistyo, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, menyebut susu ikan dapat membantu mengatasi masalah stunting di Indonesia dengan meningkatkan asupan protein dan omega-3 bagi anak-anak.

“Kandungan protein dan omega-3 dalam susu ikan memiliki potensi besar untuk mendukung perkembangan otak dan pertumbuhan anak-anak,” ungkap Budi dikutip dari Tempo.co. Ia juga menambahkan bahwa susu ikan bisa menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan sumber protein berkualitas tinggi dengan harga terjangkau.

Namun, para ahli masih mempertanyakan sejauh mana susu ikan bisa menggantikan susu sapi sebagai sumber utama nutrisi. Proses pengolahan yang panjang dan karakteristik gizi yang berbeda membuat susu ikan belum bisa secara langsung menggantikan posisi susu sapi, terutama dalam hal kalsium yang penting untuk kesehatan tulang.

Keunggulan Masing-masing

Pada akhirnya, baik susu ikan maupun susu sapi memiliki keunggulan masing-masing. Sebagaimana dijelaskan oleh berbagai sumber, susu sapi tetap menjadi sumber utama kalsium dan protein, terutama dengan kandungan kasein dan whey yang mendukung pembentukan otot dan kesehatan tulang. Sementara itu, susu ikan menawarkan kandungan omega-3 yang lebih tinggi, yang sangat penting untuk kesehatan jantung dan perkembangan otak.

Namun, para ahli tetap menyarankan agar masyarakat, terutama anak-anak, lebih sering mengonsumsi makanan utuh seperti ikan segar untuk mendapatkan manfaat nutrisi yang lebih lengkap dan optimal.

Perdebatan tentang susu ikan mungkin masih akan terus berlanjut, tetapi satu hal yang pasti: setiap pilihan nutrisi harus didasarkan pada kebutuhan spesifik individu dan situasi. Baik susu ikan maupun susu sapi memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.*

Pos terkait