Fatma mengungkapkan bahwa ia telah berhasil menerbitkan lebih dari 50 makalah di jurnal internasional dan mengumpulkan 2.601 kutipan. Dedikasinya ini memberikan kontribusi signifikan terhadap penemuan kandungan kimia dalam obat-obatan tradisional Indonesia. Fatma juga berhasil membuktikan relevansi farmakologis, mengidentifikasi bioaktivitas tanaman herbal lokal, serta memberdayakan petani dan peneliti perempuan lainnya.
Melalui penghargaan ini, Fatma semakin terdorong untuk berkontribusi pada penelitian yang berdampak bagi masyarakat luas. “Ke depan, saya berharap agar generasi muda, khususnya perempuan peneliti, terus berupaya mengembangkan riset di bidangnya,” ucapnya.
Sri Fatmawati telah meraih lebih dari 30 penghargaan bergengsi dalam kariernya. Dedikasinya tidak hanya terbatas pada publikasi ilmiah, tetapi juga pada pemberdayaan sumber daya manusia di sekitar. Melalui penelitian-penelitiannya, Fatma berusaha membuktikan bahwa jamu, sebagai warisan budaya Indonesia, memiliki potensi yang besar dalam dunia farmakologi modern.
Penelitiannya tidak hanya berfokus pada aspek ilmiah, tetapi juga pada aplikasi praktis yang dapat membantu masyarakat. Dengan memberdayakan petani lokal dan meningkatkan kualitas bahan baku jamu, Fatma berharap dapat menciptakan ekosistem yang berkelanjutan dan menguntungkan semua pihak. “Karena ilmuwan yang berdedikasi merupakan pilar untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” pungkasnya.
Penghargaan ini menjadi motivasi bagi para ilmuwan muda Indonesia untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam bidang penelitian. ITS, sebagai salah satu institusi pendidikan terkemuka di Indonesia, bangga memiliki dosen seperti Sri Fatmawati yang terus menginspirasi dan memberikan dampak positif bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat luas.*





