Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa meskipun perang harus dihindari dengan segala cara, Indonesia tidak boleh bersikap naif dengan mengabaikan kesiapan pertahanan. Ia memperingatkan, negara yang tidak mempersiapkan diri justru akan “dihabisi”.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam program Presiden Prabowo Menjawab!!! yang tayang di YouTube Prabowo Subianto, Jumat (20/3/2026). Menurutnya, perang bersifat destruktif dan harus dihindari, namun kesiapan tetap mutlak diperlukan.
“Kita mengerti bahwa perang itu sangat jahat, perang itu destruktif, perang itu harus kita hindari at all cost. Tapi kalau kita terlalu naif, kita terlalu baik, kita enggak mau siap untuk perang, kita enggak mau belajar perang, kita enggak mau perlengkapi diri untuk perang, kita justru akan dihabisi,” ujar Prabowo.
Ketahanan Pangan Kunci Kemerdekaan
Prabowo menegaskan bahwa ketahanan pangan menjadi faktor krusial dalam situasi perang. Ia menjelaskan, konflik antar kelompok manusia pada dasarnya bermula dari perebutan sumber daya, termasuk lahan subur dan sumber air.
“Perang, awalnya perang antara kelompok manusia dan kelompok manusia adalah rebutan pangan. Rebutan daerah di mana ada banyak binatang berburu atau rebutan sumber air atau rebutan lahan yang sangat subur,” tuturnya.
Dengan perkembangan sains dan teknologi, dunia menurut Prabowo menjadi semakin sempit. Akibatnya, konflik di belahan bumi mana pun kini dapat berdampak langsung pada Indonesia.
Ia mencontohkan perang Ukraina yang memicu kenaikan harga pangan global karena kedua negara yang bertikai merupakan penghasil gandum dan jagung terbesar.
“So, bumi yang semakin kecil, the world gets smaller because of technology. Kita interconnected, kejadian di satu tempat berpengaruh ke mana-mana. Apalagi nuklir. Saya kira itu,” ucapnya.***
*Sumber: Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam program *Presiden Prabowo Menjawab!!!* yang tayang di YouTube, Jumat (20/3/2026).





