Tetapi, ternyata dukungan terhadap Anas tidak habis, justru semakin mengalir. Dia mendapatan semakin banyak dukungan untuk tetap berserikat dan berkumpul kendati tidak dalam partai politik. Maka dari itu, pada hari Minggu, 15 September 2013, dia mendeklarasikan PPI sebagai ormas, bukan parpol, di kediamannya kala itu, Jl. Teluk Semangka, bilangan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Deklarasi dihadiri oleh para loyalisnya di Partai Demokrat kala itu, seperti Ketua DPP Demokrat yang juga Ketua Komisi III DPR waktu itu, Gede Pasek Suardika alias GPS—kini Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara atau PKN; Wasekjen Demokrat kala itu, Saan Mustopa; anggota Dewan Pembina Demokrat Achmad Mubarok; Ketua DPD Demokrat Kalimantan Timur Isran Noor; dan mantan Ketua DPC Demokrat Cilacap Tridianto.
Selain deklarasi, hajatan kali itu sekaligus untuk meresmikan Rumah Pergerakan, yaitu semacam markas untuk warga PPI. Anas memilih menggunakan istilah “warga” untuk simpatisan PPI, bukan “kader”.

GPS, yang kala itu menolak jadi caleg Demokrat untuk Pemilu 2014 karena memilih loyal terhadap Anas, mengumumkan bahwa dia menjadi Sekretaris Jenderal PPI. “Ketua Presidium PPI Mas Anas, Sekjen saya. Struktur kepemimpinan baru akan disusun,” kata GPS setelah peresmian. Namun, belakangan, jabatan Sekjen PPI beralih kepada S.J. Arifin setelah GPS memilih untuk mendirikan PKN bersama sebagian loyalis Anas lainnya.
Menurut rumor yang berkembang, PKN sengaja dibentuk sebagai kendaraan politik Anas setelah dia bebas. Namun demikian, GPS sebagai Ketua Umum, ketika disinggung terkait kemungkinan Anas kembali terjun ke dunia politik—utamanya menggunakan kendaraan PKN—menjawab diplomatis: “Jiwa dan habitat Mas Anas Urbaningrum di politik. Pasti beliau akan kembali ke habitatnya,” tandasnya, Jumat, 31 Maret 2023.
(Tim Samudra Fakta | Toni)





